PP tentang Dosen

Salam,

Berikut link kepada Peraturan Pemerintah tentang Dosen yang disahkan tanggal 26 Mei 2009 yang lalu. Ternyata memang tetap tidak mudah untuk meningkatkan kesejahteraan bagi dosen, tetapi jika kita memang berkualitas saya pikir PP ini justru akan banyak membantu. Insya Allah.

PP tentang Dosen

Komentar bertahan »

Dari Manohara ke Prita ke semiotika nomor urut

Salam,

Tulisan ini untuk merangkum persepsi saya tentang berbagai isu sejak tulisan terakhir saya tentang facebook. Maklum, satu bulan belakangan ini saya disibukkan dengan penyelesaian thesis, artikel dan abstrak yang harus saya kirim ke berbagai konferensi dan jurnal. Pertama, mengenai Manohara. Banyak pihak sudah membahas mantan model yang jadi model lagi ini (lho??). Yang menjadi ketertarikan saya yaitu mengenai bagaimana media di Indonesia terutama media online membahas isu tersebut. Saya ikut aktif memberikan komentar-komentar baik di Facebook atau Kaskus.us mengenai hal ini. Menurut saya, Manohara adalah salah satu dari sekian contoh bagaimana media mengarahkan isu tertentu (framing). Yang saya amati bahwa isu-isu yang berkembang kemudian melahirkan hubungan asosiatif dengan isu yang mungkin sebenarnya tidak berhubungan. Sangat menarik melihat bagaimana ekspresi pengguna media online menghubungkan Manohara sebagai puncak gunung es dari masalah hubungan Indonesia-Malaysia. Apalagi melihat isu-isu yang kemudian muncul seperti blok Ambalat dan penyiksaan TKW Siti Hajar. Manohara tidak lagi memerankan sosok korban KDRT melainkan telah menjadi duta kekesalan beberapa orang Indonesia tentang ’Malaysia’. Saya beri tanda kutip karena sebenarnya orang-orang tersebut pun sepertinya tidak melihat Malaysia sebagai sebuah negara melainkan sebagai sebuah stereotip, jika tidak mau dibilang metafora.

Berbicara mengenai stereotip dan metafora, saya melihat kasus Ibu Prita juga seperti itu. Jika rubrik Buras Lampung Post melihatnya sebagai people power, saya kira tidak. Apa yang dimaksud dengan people power? Apa seperti idiom vox populi vox die? Suara rakyat suara tuhan, siapa yang dimaksud dengan ‘rakyat’ dan atau ‘suara rakyat’? Menurut saya yang berkembang adalah metafora. Metafora atau methapor menurut kamus Princeton dapat didefinisikan sebagai a figure of speech in which an expression is used to refer to something that it does not literally denote in order to suggest a similarity. Ciri mendasar metafora adalah translogika dengan melahirkan virtual kesamaan antara dua subjek. Kok bisa sejauh itu? Itu kan cuma masalah email… Ya, memang. Praktisnya memang adalah masalah Groundswell, mengutip istilah dari Bernoff & Li (2008), atau jika merujuk pada pendapat Jakubowicz (2009) adalah sebuah praktek post-objective. Tindakan manusia selalu didasari oleh logika, itu yang harus kita yakini dulu. Kalo ada yang bilang, ah.. kan ada tingkah laku yang tanpa logika? Saya kira itu justru yang disebut kesalahan logika. Mari kita telaah kesadaran kolektif (mengutip archetype-nya Carl Jung) yang adalah imbas dari gerakan informasi tersebut dan bagaimana kesadaran tersebut mentransformasi isu ke dalam bentuk tanda (sign). Kasus Ibu Prita sama seperti kasus Manohara, berkembang karena spotlight media. Baik pada kasus Manohara ataupun Prita, spiral informasi bergerak sentripetal dari isu utama. Laju isu kemudian lahir dengan menyinggung substansi-substansi lain seperti; ketidakpuasan beberapa pihak dengan UU ITE, masalah perbatasan Indonesia-Malaysia yang tak kunjung selesai, nasib TKW, dll. Persinggungan tersebut tidak diasosiasikan secara instant.

Para pembuat berita, atau media sebagai entitas, melihatnya melalui kesamaan eksistensi, melalui ciri-ciri yang lalu dikristalkan dengan melabelkan isu ke dalam kata-kata sederhana seperti ’Manohara’ untuk mewakilkan ketidakpuasan kepada Malaysia, untuk merepresentasikan kekerasan dalam rumah tangga, kisah sukses (dalam pengertian berhasil kabur dari lingkungan yang menjeratnya), nasib orang Indonesia di rantau hingga alternatif tren pemberitaan selain pemilu. Tak pelak, ada rumah makan yang menambah embel-embel Manohara sehingga nama rumah makan tersebut menjadi ’RM Ayam Goreng Manohara’, atau ’jilbab dan tas Manohara’ untuk melabelkan sebuah model jilbab dan tas yang banyak dijual di Tanah Abang, Jakarta. Ternyata pada kasus rumah makan, asosiasi yang dihasilkan berkonotasi sebagai ’kisah sukses’, ’alternatif’, dan tren stereotip. Pada kasus jilbab dan tas, hubungan yang terbentuk adalah paradigmatik. Makna dari bentuk jilbab dan tas tersebut digantikan dengan apa yang orang-orang pikir tentang Manohara (dan kebetulan Ibu Prita juga berjilbab), lagi-lagi tren stereotip. Hubungan asosiasi dan paradigmatik tersebut tidak hanya dipikirkan oleh satu orang melainkan ribuan, bahkan mungkin jutaan se-Indonesia. On the other hand, kasus Ibu Prita mempunyai urutan kelahiran asosiatif yang berbeda dengan kasus Manohara. Pada kasus Ibu Prita, labelisasi lahir sebelum kasus selesai, sebaliknya pada kasus Manohara. Ini adalah permainan metafora. Ibu Prita kemudian menjadi metafora dari ‘korban malpraktek’, dan ‘fenomena ITE’ di Indonesia. Sadar ataupun tidak disadari oleh Ibu Prita, metafora terhadap dirinya adalah hal yang menyelamatkan dirinya.

Kasus terakhir adalah mengenai nomor urut capres. Tadinya saya mau menuliskannya kedalam bentuk artikel untuk dimuat dikoran tetapi saya kira tidak perlulah, toh kalo saya ngomong semiotik apa ada yang ngerti… (bukannya merendahkan lho, hanya saja yang tidak mengerti lebih banyak dari yang mengerti…). Pendapat saya mengenai semiotika nomor urut capres dilandasai setelah banyaknya paranormal ataupun pembicaraan di forum-forum online tentang pendapat mereka pada masing-masing nomor urut. Yang unik adalah mereka melakukan apresiasi tanpa sadar dengan mengkonstruksi persepsi yang sudah dimiliki oleh mereka sendiri terhadap nomor yang bersangkutan. Sebagai contoh, ada yang mengatakan bahwa nomer 1 ’menandakan’ akan menjadi nomer 1, nomer 2 mudah diingat (dari mana ingatannya??), nomer 3 adalah nomer yang akan meneruskan, dsb. Nomor urut kemudian menjadi symbol, karena adanya hubungan kausalitas antara kenyataan dengan ke-sebab-an yang ada dalam pikiran para interpretants tersebut. Terlepas hasil akhirnya nanti, menarik sebenarnya untuk disimak bahkan kalo ada yang mau menelitinya, apakah semiotika nomor urut tersebut berpengaruh pada elektabilitas (saya baru saja belajar mengenai kata ini) para capres.

Sekiranya sekian dulu, terima kasih sudah membacanya.

Komentar (1) »

Mengenai fatwa haram atas Facebook

Hari ini, berita-berita di portal-portal berita penuh dengan dengan kupasan mengenai fatwa haram yang dikeluarkan ulama di Jawa Timur tentang penggunaan Facebook. Mereka mengharamkan penggunaan Facebook untuk mencari jodoh atau pacaran, atau penggunaan berlebihan lainnya. Lalu pada berita lainnya di ulas pendapat dari para pengguna Facebook (facebookers) bahwa fatwa itu tidak berdasar dan mereka lebih melihat sisi manfaat yang ditawarkan situs jejaring sosial lainnya. Terus terang saja, sebagai pengamat teknologi web dan pengguna facebook posisi pendapat saya tentunya sudah bisa ditebak. Saya menyayangkan fatwa seperti itu. Tetapi alasan saya berpendapat demikian bukan merupakan pembelaan sepihak (pledoi) atau berusaha mencari pembenaran dari apa yang saya lakukan.

 

Argumentasi saya yaitu fatwa tersebut adalah penyalahgunaan kekuasaan dengan tujuan pembenaran terhadap pendapat pribadi. Fatwa tersebut dengan mengutip dasar-dasar dari hukum islam lebih sebagai pembenaran daripada menghasilkan keputusan yang lebih bermanfaat. Telaah argumentasi saya adalah:

  • Sesuai dengan yang disadur dari detikSurabaya (22/05/2009): ”larangan tersebut ditekankan adanya hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Apabila hubungan pertemanan spesial tersebut dilakukan mengenal karakter seseorang dalam kerangka ingin menikahi dengan keyakinan keinginannya akan mendapatkan restu dari orang tua, hal tersebut tetap diperbolehkan”. Jika menilik kutipan kutipan tersebut terdapat dua kesalahan logika.

Pertama, kesalahan mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Apa yang dimaksud dengan ”hubungan pertemanan spesial yang berlebihan” terlebih lagi, apa yang dimaksud dengan berlebihan dalam konteks penggunaan facebook. Dalam penelitian kualitatif yang saya lakukan untuk tesis saya, saya mewawancara pengguna facebook dari 8 negara yang berbeda. Seorang informan bahkan mempunyai jam akses internet hingga 100 jam perminggu tetapi apakah artinya ia telah bertindak berlebihan jika selama 100 jam ia mengakses internet dan pada saat yang bersamaan ia mengakses facebook. Jawabannya tidak, setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda untuk segala sesuatunya dan itu adalah tesis sejarah. Sama seperti setiap orang mempunyai kebutuhan tidur yang berbeda. Penelitian yang mengatakan bahwa tidur 6 jam lebih baik dari tidur 8 jam sebenarnya adalah temuan berdasarkan karakteristik tertentu dan tidak berlaku untuk semua manusia, setiap penelitian mempunyai batasannya sendiri. Untuk kutipan diatas, jelas argumentasi yang digunakan ulama adalah absurd dalam mendefinisikan apakah yang dimaksud dengan perilaku yang berlebihan. Contohnya; Darimana kita bisa mengetahui bahwa seseorang menggunakan facebook untuk mencari pacar atau ”hubungan pertemanan spesial” atau bahkan prostitusi. Apakah dengan mencantumkan statusnya di situ jejaring tersebut seseorang bisa dikatakan menggunakannya secara berlebihan, alas sebagai sesuatu yang haram. Kita tidak bakal bisa tahu.

          Kedua, kesalahan logika bahwa sesuatu yang khusus bisa diterapkan pada sesuatu yang umum. Analoginya seperti menyamakan bahwa setiap orang menyukai sambel. Memang buat beberapa orang tertentu, tetapi mengatakan ”semua orang Indonesia menyukai sambal” adalah sebuah kesalahan logika. Kalau ada yang merespon dengan menyamakannya dengan penggunaan logika induktif dan deduktif, orang tersebut perlu baca buku Dasar-dasar logika lagi. Induktif dan deduktif adalah perspektif proses logika, ketentuan-ketentua berlaku pada penerapannya masing-masing dan kalau kita tidak jeli, kita bisa terjatuh dalam jurang kesalahan logika. Kalo masih ada yang menimpali bahwa kita tidak perlu menggunakan logika dunia barat, saya justru ingin tanya dimana barat dan dimana timur di atas bumi ini. Barat dan timur adalah sisi dari keberadaan kita didunia (bukan hanya di Bumi), karena Indonesia adalah barat dari USA maka dunia timur dari Indonesia justru Amerika, dan tradisi pemikiran induktif dan deduktif justru berasal dari dunia Islam, tradisi filsafat di Eropa justru belajar dari tradisi filsafat Islam, lucu bukan? Karena itu, menganggap setiap muslim yang menggunakan facebook untuk mengenal lawan jenis tanpa maksud keseriusan dan tanpa izin orang tua adalah sebuah tindakan sia-sia dan berujung zina adalah sebuah kesalahan interpretasi yang fatal. Jangan karena buruk muka lalu cermin dibelah, atau tidak dapat ikan lalu kail dipatahkan. Tindakan yang berdasarkan amarah justru adalah hal yang dilarang dalam Islam, semoga saya tidak salah.

  • Kenapa kita melarang sesuatu yang jelas-jelas manfaatnya lebih besar daripada penyalahgunaannya. Kita melarang facebook dengan alasan mubazir dan menjurus ke zina tetapi kita mengamini, bahkan memberikan komentar ”Allahu Akbar!”, video yang diposting seseorang di Palestina yang mempertontonkan seorang anak laki-laki yang menggorok leher seseorang yang menurutnya ’kafir’. Ini adalah standar ganda. Ini bukan Islam sebagai penyebar kedamaian yang saya yakini, ini adalah Islam yang menyebar kebencian. Pertanyaannya adalah apakah Islam adalah kedamaian dan kebencian? Siapakah yang menyebar kedamaian dan kebencian kalau bukan manusia itu sendiri, jadi apakah Islam adalah manusianya itu sendiri?
  • Kalau saya tidak salah ingat, sekitar 10 atau 11 tahun yang lalu ada fatwa yang mengatakan internet itu haram karena mengandung banyak konten porno, sadis, dan menyudutkan Islam. Tetapi seiring waktu berjalan, kita melihat banyak manfaat yang bisa didapatkan dari hadirnya internet. Internet digunakan siswa-siswa kita untuk mempelajari materi-materi yang tidak pernah bisa didapatkan jika menunggu materi tersebut diterbitkan dalam bentuk buku. Ada ekonomi yang tumbuh dari hadirnya internet, warnet-warnet yang memperkerjakan pegawai, toko-toko online, posisi-posisi baru yang membuka lapangan kerja bagi putra-putri bangsa. Ada politik, sosial, budaya dan interaksi yang kita rasakan manfaatnya dengan berkomunikasi dengan bangsa lain. Anda harus paham, sama seperti teknologi lainnya, pada awalnya Facebook dan internet pada umumnya adalah bebas nilai. Mereka adalah pisau yang bisa menghasilkan masakan-masakah lezat bergizi dan bernilai tinggi atau bahkan bisa digunakan untuk membunuh manusia yang lain, semuanya tergantung penggunanya. Saya kira solusinya justru bukan melarang menggunakan facebook tetapi kenapa tidak merangsang peneliti-peneliti muda Indonesia dan pakar-pakar teknologi, atau yang mengaku sebagai pakar teknologi, yang kita miliki untuk menciptakan teknologi yang lebih maju, yang bisa mengakomodasi permasalahan yang kita hadapi. Bukankan itu tujuan dari semua ilmu di dunia ini, untuk memecahkan permasalahan manusia di dunia.
  • Social media adalah sebuah fenomena yang tidak akan berhenti sampai disini. Sama seperti ditemukannya mesin cetak sehingga bisa menghasilkan buku 500 tahun yang lalu atau lahirnya komputer 100 tahun yang lalu. Perkembangan dari social media akan lebih maju dari apa yang kita kenal saat ini. Alasan tersebut karena, pertama, adalah sifat alami (nature) dari manusia sebagai makhluk sosial untuk bersosialisasi. Selama kebutuhan itu masih ada, social media akan terus berkembang. Kedua, selama manusia masih mempunyai masalah dalam hidup di dunia, teknologi dalam hal ini social media akan terus berevolusi (atau revolusi) untuk bisa memecahkan permasalahan yang ada, dan tanpa batas.
  • Kalaupun pengguna facebook tersebut menggunakan account-nya untuk tujuan yang sia-sia dan zina, siapakah yang mengetahuinya selain dia dan Allah? Dan kalaupun bisa terbukti misalnya dengan kasus seperti di Germany. Seorang laki-laki yang menampilkan profilnya sebagai wanita sedemikian rupa sehingga berhasil mengundang laki-laki untuk mengirimkan video mereka tanpa busana. Atau seperti kasus yang baru saja diputuskan bersalah oleh pengadilan di US, seorang ibu memalsukan profilnya di MySpace dan berhubungan dengan seorang gadis, kemudian gadis tersebut bunuh diri karena merasa diputuskan oleh pacar mayanya di MySpace. Apakah kemudian kita sebaiknya tidak menggunakan Facebook atau MySpace atau Friendster lagi? Apakah kemudian penggunaannya menjadi haram? Menurut saya tidak, semua orang didunia apalagi di Indonesia tahu mengenai bahaya merokok, lalu apakah haram untuk merokok? Variasi aksi yang dilakukan seorang muslim Indonesia pada facebook atau situs jejaring sosial adalah alternatif-alternatif yang bisa didapatkan oleh sejuta kemungkinan dari kenyataan. Jangan menghakimi sesuatu yang khusus dengan mengorbankan kemashlahatan umum. Anda tidak ada bedanya dengan pemimpin koruptor yang berpendapat bahwa apa yang ia lakukan adalah benar buat dirinya sendiri, tanpa memperdulikan bahwa uang yang ia korupsikan adalah hasil pajak dan keringat orang lain. Jangan anda memeras keringat orang lain demi kepentingan anda pribadi, anda terjebak dalam riba.

 

Argumentasi saya di atas, memunculkan pertanyaan lanjutan. Apakah yang harus kita lakukan sebenarnya terhadap masalah bahwa ada muslim di Indonesia yang menggunakan Facebook, atau situs jejaring sosial secara keseluruhan, untuk mencari jodoh tanpa maksud keseriusan sehingga bisa menjurus beberapa solusi yang saya bisa pikirkan saat ini, adalah:

  • Berikan pengertian mengenai etika menggunakan situs jejaring sosial secara benar dan menyentuh. Jika anda masih melanggarnya juga, dosa atau tidak bukan ulama yang menentukannya.
  • Kembangkan teknologi atau aplikasi yang bisa menyaring aktivitas-aktivitas pengguna, tetapi apakah pengguna menggunakannya atau tidak itu terserah pengguna.
  • Kenapa tidak mengembangkan situs jejaring sosial sendiri. Undang muslim-muslimah untuk bergabung dengan anda. Tapi kalo tidak laku jangan serta merta menyalahkan facebook, mungkin ide anda tidak sesuai buat pengguna facebook.
  • Kita harus terbuka untuk segala hal. Saya kira Islam bukanlah sebuah agama yang berhenti pada waktu dan tempat tertentu. Bukankah Islam adalah agama akhir zaman? Selama waktu dan tempat masih berjalan, Islam harus terus berkembang.

 

Saya kira itu saja yang bisa saya pikirkan saat menulis postingan ini, semoga pembaca ada yang mau menambahkan dan memperkaya diskusi.

 

Salam,

 

 

Riza

 

Ini link ke beritanya:

Penggunaan Facebook Berlebihan Diharamkan Ponpes se Jawa-Madura

Facebookers: Fatwa Haram Facebook Tidak Berdasar

Komentar (7) »

Sekelumit tentang perkembangan rating iklan Google

Salam,

 

Google memposting berita terbaru tentang program mereka dalam meningkatkan kompetensi dan persaingan dalam dunia iklan. Sebagaimana di ketahui, iklan adalah sumber pemasukan terbesar dalam bisnis di dunia internet dan sebagai cabang usaha yang memberikan masukan terbesar bagi Google, mereka menggarap dengan serius bagaimana agar iklan dapat lebih merangkul ‘pembeli’ bukan saja ‘penonton’. Dalam dunia social media dikenal istilah ‘international paradox’ untuk menelaah kenapa social media di negara-negara berkembang seperti facebook di Indonesia, walaupun dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Asia tetapi tingkat pendapatan yang di peroleh oleh facebook masih kalah dengan singapura. Hal tersebut dikarenakan walaupun penonton iklan (viewers) facebook di Indonesia jutaan pasang mata tetapi yang benar-benar menggunakannya untuk membeli (buyers) barang yang diiklankan sangat minim. Karena itu pendapatan balik (revenue) yang didapat pemasang iklan tidak tinggi sehingga menyebabkan turunnya tingkat pemasangan iklan komersial oleh facebook itu sendiri. Implikasinya jelas, pendapatan facebook pun ikut menurun. Tetapi kenapa dikatakan ‘paradox’? karena walaupun pendapatan yang diperoleh rendah, facebook tidak bisa serta merta meninggalkan pasar Indonesia yang menurut saya karena beberapa pertimbangan:

1. Kekuatan jejaring sosial (social network) sebagai modal sosial (social capital) pada pasar Indonesia sangat kuat. Sebagai negara dengan pengguna facebook terbanyak di Asia, adalah strategi yang salah jika facebook melepas para jutaan pengguna yang sudah ada. Facebook masih memerlukan tingkat traffic yang tinggi sebagai jualannya karena itu mereka masih butuh banyak pengguna.

2. Dikatakan paradoks juga karena semakin naiknya investasi facebook pada infrastruktur network mereka di Indonesia tidak serta merta diiringi dengan naiknya tingkat pendapatan mereka, bahkan cenderung menurun. Dengan adanya resesi dunia yang melanda saat ini, sudah untung dikatakan adanya pemasukan.

3. Dari internal facebook sendiri, mereka belum bisa menemukan sistem pemasaran iklan yang tepat, efektif dan cukup efisien sehingga bisa menerapkan prinsip ‘produk yang tepat untuk pembeli yang tepat’.

 

Untuk itulah saya membahas sistem yang dipakai oleh Google saat ini. Google menamakan video ini, ‘once a good ad, always a good ad’. Cukup menarik perhatian menurut saya,  a catchy title. Di video ini diperlihatkan metode yang mereka pakai dalam menentukan apakah suatu iklan bisa dikatakan ‘baik’ atau tidak. Mereka menggunakan set-top box(es) (STB) yang dipasang pada responden yang mereka klaim informasi yang mereka dapatkan hingga berjumlah jutaan, walaupun tanpa identitas (anonymous). Mereka menggunakan pola yang didapat dari grafik penggunaan berdasarkan beberapa variabel, kalau saya tidak salah, yaitu jumlah akses, jumlah waktu yang dihabiskan pada iklan, melihat kembali (revisiting), hingga tindakan membeli (buying). Hasilnya seperti yang terlihat di dalam video. Tehnik yang digunakan sebenarnya bukan barang baru dalam statistik, tetapi yang menarik bagi saya adalah bagaimana Google bisa membuat alat yang mendeteksi lalu lintas tersebut, menerjemahkannya ke dalam data trend dan menjualnya. Ini adalah konsep yang luar biasa, amazing! walaupun Google TV belum begitu populer tetapi rupanya Google tidak berputus asa, mereka sudah menyiapkan backbone2 seperti ini yang pada saatnya akan merubah keseluruhan kemasan Google TV menjadi begitu dahsyat. Saya kira praktisi iklan perlu belajar mengenai hal ini.

 

Anyway, enjoy the video!

 

Komentar (1) »

New Notions of Media bagian 2

Melanjutkan bagian sebelumnya..

Implikasi dari hadirnya neo-intermediation dan meta-media yaitu lahirnya post-objective. Jakubowicz berargumentasi tentang susahnya membedakan antara mana informasi yang berfungsi sebagai sebuah berita (news) dan manakah informasi yang justru berfungsi sebagai propaganda. Dia mencontohkan lahirnya Renault TV (www.renault.tv) dimana informasi tersedia 24/7. Disatu pihak media yang dibuat oleh Renault tersebut bisa dikatakan sebagai news producer karena memenuhi criteria sebagai penerbit dan informasi dibungkus dalam kaidah jurnalistik umum (adanya reporter, ulasan, headline, dsb) dengan tampilan yang seolah-olah ‘netral dan natural’ tetapi di lain pihak bahwa informasi yang dibahas hanya mengenai satu sumber dan lebih mengambil peran sebagai bagian dari kampanye ‘public relation’ produk Renault membuat stream tv tersebut tidak lebih dari sebuah iklan, sebuah propaganda. Post-objective mengakibatkan ‘pembaca teks’ tidak bisa kembali pada makna-makna asli dari teks yang diterimanya. Jika kita artikan bahwa objektifitas adalah sesuatu yang undistorted by emotion or personal bias; atau based on observable phenomena; “an objective appraisal”; “objective evidence” maka jelas-jelas bahwa pada fenomena new media atau disebut juga social media berita yang dihasilkan sudah melampaui semua prosedur itu. Kesemua informasi lahir dari seolah-olah murni tanpa intensionalitas bahkan yang paling agresif sekalipun misalnya blog yang menjelek-jelekkan agama tertentu. Kesemuanya menjadi objective karena pembaca menganggap new media itu sendiri sebagai pembenar informasi, sebuah semiotic media.

 

Selain blogs dan broadband tv, Jakubowicz juga mempertanyakan fungsi objektifitas dari user-generated content website such as youtube dalam konteks jurnalisme. Selama beratus tahun, jurnalisme menganggap bahwa objektifitas adalah ketika informasi tersebut bisa diperiksa silang (cross-checked) kejadiannya, bahwa informasi berasal dari kenyataan. Pada UGC, informasi yang dibangun oleh para pengguna (user) adalah asli dan benar adanya tetapi apakah kita bisa mengatakan bahwa informasi itu objektif? Saya masih meragukan hal itu, tetapi kata objektif itu sendiri adalah tanda (sign) yang selalu berubah. Contohnya yang paling dekat adalah halaman ‘Say no to megawati’ yang saya bahas beberapa waktu yang lalu. Pada awalnya hanya ada satu pengguna sekaligus pencipta halaman, sebuah subjektifitas, kemudian dalam 3 hari mencapai 97 ribu pendukung. Apakah itu masih sebuah subjektifitas atau telah menjadi objektifitas? Atau tidak keduanya karena sudah menjadi post-objektifitas? Jika dikaitkan bahwa objektifitas yang kemudian lahir adalah sebuah differensial (turunan) dari objektifitas awal apakah lebih tepat jika tujuan tersebut kemudian disebut hiper-objektifitas (hyperobjective)?

 

Jakubowicz kemudian mengkhususkan pembahasannya pada produser dari new media dan peran-peran komunikasi massa yang diembannya. Pada kondisi natural nya, fungsi informasi dalam komunikasi massa selalu melewati para gatekeeper yang bertugas menyaring informasi sesuai dengan agenda setting yang sudah ditentukan. Para teoris media dari aliran kritis mengatakan bahwa titik ini adalah dimana informasi kemudian menjadi sebuah komoditas yang kemudian diperdagangkan. Jakubowicz menyoroti peran ISP dan website administrator sebagai gatekeeper dari new media. Tidak hanya itu, institusi-institusi itu juga berperan sebagai hakim (judge) yang menghasilkan media law-like effect. Yang bisa saya contohkan adalah bagaimana ISP memblokir akses pengguna dari indonesia yang mencari video fitna’ mulai dari tahun lalu hingga sekarang. Di cina, pemerintah lewat ISP memblokir kata-kata kunci (keywords) yang berhubungan dengan presiden US Barrack Obama, dan masih banyak contoh lainnya. Jakubowicz mengajukan 3 proposisi berkaitan dengan manipulasi mesin pencari (search engine); pertama, melalui pengembang mesin pencari itu sendiri yang memodifikasi hasil pencarian (search result), manual adjustments, dan logaritma yang digunakan. Kedua, para hackers yang bisa mensusupi mesin pencari. Ketiga, para information providers itself yang seeking to achieve higher ranking for their webpages. Berkaitan dengan post-objective, Jakubowicz mengatakan bahwa 38% dari google news hanya datang dari 10 perusahaan media penyedia jasa layanan berita online.

 

Di akhir kuliah Jakubowicz mengajukan 3 notions berkaitan dengan fenomena new media; pertama, all media are new-media-to-be. Ini berarti hanya tinggal menunggu waktunya saja kesemua media konvensional akan beralih ke digital. Kedua, forms of media created by new actors. Ketiga, media or media-like activities are performed by non-media actors. Kemudia menjawab pertanyaan peserta apakah fenomena ini adalah sebuah tren atau sudah merupakan langkah akhir (final steps) dari evolusi media, Jakubowicz menjawab diplomatis bahwa dia sendiri tidak bisa menjawabnya karena masih banyak factor-faktor lain yang juga mempengaruhi perkembangan new media, dia hanya mengatakan bahwa kita harus bersabar untuk melihat hasil akhirnya. Dia menambahkan bahwa masyarakat saat ini sudah terfragmentasi berkaitan dengan penggunaan media. The readers are no longer feels they need to find information from mainstream media. Para pengguna media saat ini lebih memilih loyal kepada media yang sekiranya bisa menyediakan informasi sesuai dengan apa yang mereka ingin tahu. Tidak lagi tergantung pada media untuk memberikan mereka informasi, mereka mencari informasi mereka sendiri.

 

Sekiranya itu catatan saya, banyak bagian terpotong tetapi bukan karena saya tidak menyimak tetapi memang tulisan saya yang tidak terbaca :P setelah saya lihat-lihat lagi. Anyway, semoga bermanfaat!  


Komentar bertahan »

New Notions of Media (bagian 1)

Salam,

 

Tulisan ini dibuat berdasarkan kuliah umum Dr. Karol Jakubowicz, seorang pakar media di Eropa khususnya pada ’public service broadcasting’ hari ini (16/04/2009) di Tallinn University, Estonia. Kuliahnya berjudul ”New Notions of Media: How digital technologies and social change redefine the media.” Kuliah tersebut sangat menarik sekali dan memberikan banyak inspirasi kepada saya mengenai perkembangan teknologi media khususnya pada genre new media. Untuk itu pula saya bermaksud untuk membagi pengalaman saya kepada para pembaca dengan harapan akan memicu diskusi dan dialektika yang berguna pada kondisi di Indonesia kedepannya. Karena kuliahnya sangat panjang begitu pula catatan saya maka saya membagi tulisan ini menjadi setidaknya 2 bagian.

 

Dr. Jakubowicz memulai kuliahnya dengan menyajikan fakta dan data mengenai perkembangan user-generated media (UGM) di US dan Eropa. Fakta mengatakan bahwa saat ini 6 dari 10 remaja usia 17-24 di Eropa dan US tidak lagi menonton siaran televisi, at all. Waktu yang dihabiskan oleh remaja-remaja tersebut untuk berselancar di dunia maya (accessing the web) telah melebihi (surpass) waktu yang mereka habiskan di depan televisi. Yang menarik dari presentasi awal ini menurut saya adalah pernyataan Jakubowicz yang membuat persamaan online video service sebagai suatu bentuk media rich. Ini menarik karena kalau kita tinjau teori media richness yang diajukan oleh Daft & Lengel (1986) yaitu bahwa komunikasi tatap muka adalah komunikasi yang memiliki tingkat kekayaan media tertinggi. Dimana suatu media dianggap media yang kaya akan proses komunikasi dan informasi jika media tersebut efektif dalam membuka saluran penyampaian pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi ukuran yang dipakai teori ini adalah kualitas penyampaian pesan. Nah, merujuk pada anggapan Jakubowicz bahwa online video service adalah sebuah media yang kaya (tidak jelas apa yang dia maksudkan ’kaya’) lebih menunjukkan pada kuantitas dari pesan yang dapat disampaikan oleh media yang bersangkutan. Terlebih lagi kalau jika kita telaah bahwa online video service itu sendiri sebenarnya adalah sebuah meta-media, media yang menyampaikan media. Disini dugaan awal saya adalah adanya kontradiksi pada pengertian media kaya informasi itu sendiri.

 

Selanjutnya Jakubowicz, menyinggung pesatnya perkembangan twitter sebuah suatu bentuk baru pelayanan informasi. Dia mengajukan pertanyaan apakah twitter bisa dianggap sebagai suatu media berita (news media)? Hmm, saya kira ini memerlukan diskusi yang lebih lanjut di luar artikel ini.. (tentunya jika ada yang tertarik). Jakubowiczkemudian menyajikan konsepnya mengenai bagaimana perubahan paradigma (sebuah istilah yang masih kabur..) dari komunikasi massa saat ini. Saya tidak bisa menyajikan diagramnya karena diagram ini adalah HAKI-nya Dr. Jakubowicz, tetapi saya bisa coba jelaskan. Pada definisi komunikasi massa konvensional, proses komunikasi dijelaskan melibatkan karakteristik seperti informasi dari satu produser kepada banyak penerima (one-to-many, sifat komunikan yang masif (mass audience) dan adanya peran penjaga gawang (gatekeeper) dalam menyaring informasi/berita. On the other hand, adanya proses komunikasi pribadi (private) yang melibatkan interpersonal ditandai dengan karakter komunikan yang individual dan penyebaran informasinya yang dari satu produser kepada satu penerima (one-to-one).

 

Jakubowicz argued bahwa saat ini telah terjadi proses silang konversi (cross-convergence) antara proses komunikasi massa dengan komunikasi pribadi (interpersonal).  Media massa tidak lagi hanya menyajikan informasi dari satu penerbit (publisher) sebagai produser ke banyak penerima tetapi proses informasi juga berjuktaposisi dengan memfasilitasi banyak pembaca sebagai produser informasi kepada penerbit (many-to one) dan pula banyak pembaca kepada banyak penerbit (many-to-many). Proses ini memungkinkan, misalnya, setiap orang menjadi penerbit dengan menulis sebuah berita di blog pribadinya dan semua pembaca bisa memberikan komentar (many-to-one) atau google news sebagai contoh media agregasi dari berbagai layanan berita bagi semua anggota layanan tersebut (many-to-many). Proses tersebut dimungkinkan dengan hadirnya internet sebagai penengah dari proses konvergensi tersebut. Jakubowicz juga mencontohkan layanan televisi berbasis broadband (BTV) yang bisa dianggap sebagai pilar keempat dari layanan penyiaran televisi setelah satelit, kabel, dan terrestrial.

 

Selanjutnya Jakubowicz menyajikan konsep dari adanya perubahan mode komunikasi manusia saat ini, berkaitan dengan penggunaan new media, kontrol informasi dari yang terpusat menuju individu dan kontrol atas waktu dan pilihan subjek. Menurutnya terjadi pergeseran dari kontrol informasi yang sebelumnya; Pertama, pada tingkatan terpusat disebut alokasi (allocation) dengan karakteristik kontrol waktu dan pilihan subjek yang didorong (push information) menuju proses komunikasi konsultasi (pull information). Kedua, mode kontrol proses komunikasi tersebut kemudian menyilang pada tingkatan individu dari mode alokasi menuju mode pembicaraan (conversation) dimana feedback individu sangat dimungkinkan. Proses baru ini kemudian disebutnya sebagai ’semiotika demokrasi’ (semiotic democracy). Menurut Jakubowicz pada mode komunikasi baru ini dimungkinkan tidak adanya lagi passive communication seperti yang umumnya ditemui pada proses komunikasi massa konvensional. Selain itu, dia menggarisbawahi pada munculnya fenomena disintermediation dimana pihak-pihak yang menghasilkan berita tidak lagi tergantung pada perusahaan media ataupun jurnalis untuk menghasilkan sebuah berita. Beliau mencontohkan lahirnya gerakan citizen journalism dan fenomena bloggers sebagai penghasil berita. Lebih lanjut, dijelaskan pula suatu konsep yang disebutnya Neo-intermediation dimana sekali lagi Jakubowicz mencontohkan content aggregators dan packagers, penjelasan ini menurut saya bisa disebut sebagai fenomena meta-media.

 

Saya akan cukupkan sampai disini dulu untuk bagian yang pertama ini.

Komentar (2) »

Sebuah renungan tentang kesuskesan

Salam,

 

Ini kutipan dari milis yang saya ikuti. Tulisan yang bagus. Kayak lagi membaca tulisannya Gede Prama, sangat inspiratif dan membuat kita menjadi bertanya-tanya sendiri, apakah definisi kita tentang suskes? jabatan kah, harta kah atau seberapa banyak orang yang sudah terbantu oleh keberadaan kita? Sekiranya pembaca bisa meninggalkan kesan di postingan ini saya sangat berterima kasih. Enjoy!

——————————————————————————————————————————————–

 

Sebuah Renungan tentang KESUKSESAN


Sukses itu sederhana, Sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya, Sukses itu tidak serumit/serahasia seperti kata kiyosaki / tung desem waringin / the secret, sukses itu tidak perlu dikejar,SUKSES adalah ANDA ! karena kesuksesan terbesar ada pada diri Anda sendiri….

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1 ovum, itu adalah sukses pertama Anda!

Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna tanpa cacat, itulah kesuksesan Anda kedua…

Ketika Anda ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1, di saat tiap menit ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP,

itulah sukses Anda ketiga…

Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan bilangan segitiga emas, di saat 46 juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesan Anda keempat…

Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada 3 juta orang mati kelaparan setiap bulannya itulah kesuksesan Anda yang kelima…

Sukses terjadi setiap hari, Namun Anda tidak pernah menyadarinya. ..

Saya sangat tersentuh ketika menonton film Click! yg dibintangi Adam Sandler, “Family comes first”, begitu kata2 terakhir kepada anaknya sebelum dia  meninggal…

Saking sibuknya Si Adam Sandler ini mengejar kesuksesan, ia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak & istrinya, bahkan tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri, keluarga nya pun berantakan,istrinya yang cantik menceraikannya, anaknya jadi ngga kenal siapa ayahnya…

Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa terus2an jadi best seller dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit dan sukar didapatkan.. .

Sukses tidak melulu soal harta, rumah mewah, mobil sport, jam Rolex, pension muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang/helikopter, punya istri cantik seperti Donald Trump & resort mewah di Karibia…

Tapi buat saya pribadi yang bisa hidup dengan sangat berkecukupan, saya rasa sukses memiliki arti yang berbeda…

Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri Anda sendiri, mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana saja….

Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan, sukses yang sejati adalah menikmati & bersyukur atas setiap detik kehidupan Anda,pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya, sedangkan pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya, setelah itu Anda sudah harus bersiap lagi menghadapi episode baru lagi.

Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak menipu, apalagi menjadi pribadi yang jujur, ikhlas & selalu rendah hati, Sukses itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan, tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit, sukses sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan,keadaan, dan kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Saya berani berbicara seperti ini, karena hidup yang saya alami ini seperti roda pedati, ketika masih mahasiswa hidup begitu nelangsa cuma mampu makan warteg 1 kali sehari dengan nasi setengah+sayur gratis+ tempe goreng.

Tapi ternyata dulu nikmat makan di warteg kok sama saja bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika,

Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah & terpal, hujan kehujanan, & panas kepanasan. Tapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 di Jepang,

Saya dulu, pulang-pergi ke sekolah jalan kaki atau bersepeda sejauh 40km, pakai baju lusuh, tas kotor & alat tulis seadanya, datang ke sekolah selalu menjadi bahan tertawaan teman2 yg lebih kaya, tapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya naik mercy, sama2 nyampe juga ternyata, Mas…

Saya pernah diundang boss saya ke rumah barunya, untuk menikmati ruang auditoriumnya, ada speaker untuk karaoke, ada untuk mendengarkan musik, ada untuk home theater, dia bilang speaker Thiel-nya untuk mendengarkan musik saja seharga 400 juta, saya disuruh ngedengerin waktu beliau putar musik jazz, memang enak sekali, suara dentingan gelas & petikan bass bisa terdengar jelas,tapi kok setengah jam di situ, saya toh bosan juga, Mas…..

Sama saja nikmatnya mendengarkan musik di computer sendiri, yg speakernya cuma Simbadda 100 rb…

Pernahkah Anda menyadari?

Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang. Uang hanyalah alat tukar, Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu

Anda. Ya, Anda mungkin harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15 tahun atau beli mobil/motor kredit selama 3 tahun.

Itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda, Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam kepada penawar tertinggi untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan, pulsa telepon dll…

Aset terbesar Anda bukanlah rumah/mobil Anda, tapi diri Anda sendiri, Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dari orang bodoh…

Semakin berharga diri Anda,semakin mahal orang mau membeli waktu Anda…

Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di seminar bisa dibayar 200 juta atau harga 2 jam seminar Pak Tung bisa mencapai 100 juta!!!

Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan sebesar 200 juta dollar,hanya untuk memakai produk Nike. Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya, tapi karena produk tsb dipakai oleh siapa…

Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan, bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk sama, bila kita jual harganya justru malah turun….

 

Hidup ini kok lucu,kita seperti mengejar fatamorgana, bila dilihat dari jauh, mungkin kita melihat air / emas di kejauhan, namun ketika kita kejar dng segenap tenaga kita & akhirnya kita sampai, yang kita lihat yah cuman pantulan sinar matahari/corn flakes saja oh…ternyata. ..

 

Lucu bila setelah Anda membaca tulisan di atas Namun Anda masih mengejar fatamorgana tsb ketimbang menghabiskan waktu Anda yg sangat berharga untuk sungkem sama orangtua yg begitu mencintai Anda, memeluk hangat istri/kekasih Anda, mengatakan “I love you” kepada orang-orang yang anda cintai : orang tua, istri, anak, sahabat-sahabat Anda.

Lakukanlah ini selagi Anda masih punya waktu, selagi Anda masih sempat, Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan meninggal, mungkin besok pagi, mungkin nanti malam,


LIFE is so SHORT.

Komentar bertahan »

Aspirasi itu akhirnya dihapus

say-no1

Salam Damai,

 

Akhrinya setelah mengamati perkembangan page Say No to Megawati di facebook selama hampir 4 hari ini, akhirnya saya terpaksa mengakhirinya. Pengamatan dan keikutsertaan ini harus berakhir karena halaman tersebut sepertinya sudah di hapus oleh admin facebook. Saya sebenarnya menyayangkan hal ini karena menurut saya despite apapun ekspresi yang ada di dalamnya fenomena ini adalah bukti dari efek Groundswell pada masyarakat Indonesia. Jika kita merujuk pada definisi oleh Bernoff & Li (2008) yang menekankan pada fenomena social media dimana para pengguna (user) tidak lagi tergantung pada mainstream untuk menentukan pilihan informasi yang dikehendakinya. Groundswell ibarat ombak di lautan yang tidak akan habis-habisnya karena ombak tersebut adalah lautan itu sendiri. Dan halaman say no to Megawati ini adalah bukti bahwa groundswell Indonesia mempunyai keinginannya sendiri despite berapa banyak pendukungnya.

 

Terakhir saya posting di posisi 95 ribuan suporter (6/04) kalo dibuka sampai pagi mungkin nyampe 100 ribu (postingan pertama saya di halaman itu di posisi 7 ribuan). Jumlah yang sangat fantastis untuk sebuah halaman yang hanya berusia dua minggu. Kalo di pasangin iklan google ads, yang punya halaman udah dapet USD 1000 tuh, lumayan buat bayar denda kalo ketangkep:))). Tetapi selagi hangat-hangatnya, maka saya menuliskan thread ini sebagai sebuah dokumentasi yang saya kira layak diperhitungkan buat pemilu selanjutnya atau pilkada2 kedepannya.  Saya menyayangkan dihapusnya halaman ini karena ini membuktikan beberapa orang tidak tahan kritik. Kalo tidak tahan kritik mbok ya jangan jadi pemimpin, kayak saya saja jadi dosen atau peneliti itupun masih dikritik juga ama mahasiswa.

Komentar (7) »

Another thought about seamless communication..

Ini artikel dari kompas cetak hari ini (25/03/2009) yang saya unduh dari versi onlinenya. Ini kali pertamanya saya menampilkan tulisan orang lain di blog ini karena menurut saya tulisan dosen UI yang juga senior editor di harian Kompas ini selain bagus juga tepat dengan apa yang saya pikirkan saat ini, yaitu tentang seamless communication dan bagaimana perkembangan teknologi saat ini telah mencapai tahap baru dalam evolusi media. Open access, open source, dan gerakan open2 lainnya turut berperan dalam mendistribusikan teknologi seamless communication. Pada kutipan dibawah Ninok Leksono membahas tentang iNews dan E-book dan bagaimana suratkabar kertas mulai merasa tersisih oleh teknologi ini. Satu antitesis dari dialektika fisik media. Ah, saya gak sabar untuk melihat teknologi apa yang akan menjadi sintesisnya..

anyway, enjoy!

————————————————————————————————————————————————–

Diunduh dari: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/25/05073081/inews.dan.e-book.selamatkan.koran

LAPORAN IPTEK
iNews dan E-book Selamatkan Koran?

Rabu, 25 Maret 2009 | 05:07 WIB

 

Oleh NINOK LEKSONO

Surutnya era surat kabar di berbagai penjuru dunia telah banyak diwacanakan, antara lain ditandai oleh surutnya pendapatan iklan dan jumlah pelanggan, lebih-lebih dari kalangan muda. Tak bisa disangkal lagi bahwa generasi muda yang juga dikenal sebagai Generasi Digital atau Generation C lebih menyukai peralatan (gadget) untuk mendapatkan informasi.

Menghadapi era transisi atau era baru ini, berbagai pendapat masih saling adu kuat, antara yang masih percaya akan kelangsungan hidup surat kabar dan yang yakin bahwa media yang pernah sangat berpengaruh ini satu hari nanti akan punah.

Hari-hari ini, tokoh besar media seperti Rupert Murdoch berada dalam kebimbangan besar. Sesaat sebelum resesi marak, Murdoch membeli Dow Jones yang menerbitkan koran The Wall Street Journal senilai 5 miliar dollar AS (sekitar Rp 60 triliun). Itu karena Murdoch dikenal sebagai sosok yang punya kelekatan kuat terhadap surat kabar (meski ia juga diakui sebagai mogul multimedia abad ke-21). Tetapi, kini ketika surat kabar mengalami kemunduran paling buruk semenjak Depresi (Besar tahun 1930-an), analis media di Miller Tabak, David Joyce, sempat mendengar dari para investor bahwa News Corp (konglomerasi media milik Murdoch) boleh apa saja, kecuali koran (IHT, 24/2).

Tantangan terhadap media cetak memang sungguh hebat. Orang membandingkan, mengapa media ini tak setahan TV, misalnya. Bahkan, ketika orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan layar internet, atau juga di layar video, tidak sedikit pula yang masih terus bertahan di depan layar TV. Sayangnya, dalam pertempuran di antara layar-layar tersebut, media cetak tertinggal di belakang (Print media losing in a world of screens, IHT, 9/2).

Berbagai ide dan upaya telah dilontarkan untuk menyelamatkan surat kabar. Satu problem yang disadari ketika surat kabar masih diharapkan terus menjadi sumber keuntungan adalah bahwa akan ada kesulitan yang melilit. Penjelasan ini bahkan muncul ketika versi online koran sangat berpengaruh seperti The New York Times sudah amat maju, dengan pengakses unik 20 juta. Penyebabnya adalah penghasilan dari online hanya mampu mendukung 20 persen kebutuhan stafnya.

Menghadapi defisit ini, diusulkan ada pengerahan dana abadi (endowment) bagi institusi media cetak sehingga mereka terbebaskan dari kekakuan model bisnis, dan dengan itu media cetak tetap punya tempat permanen di masyarakat sebagaimana kolese dan universitas. (Lihat pandangan David Swensen, Chief Investment Officer di Yale, dan Michael Schmidt, seorang analis finansial, di IHT, 31/1-1/2.)

Dukungan teknologi

Sebelum ini, salah satu pemikiran yang banyak dikemukakan untuk meloloskan media cetak dari kepungan media baru adalah dengan bergerak ke arah multimedia sehingga berita tidak saja disalurkan untuk koran, tetapi juga untuk media lain, dari radio, TV, hingga internet dan mobile/seluler. Ini selaras dengan realitas baru, di mana pencari berita memang dari kalangan pengguna media noncetak dan media baru. Paham pun beranjak dari pembaca (readership) ke audiens. (Ini pada satu sisi juga akan membebaskan pengelola surat kabar dari tekanan meningkatkan oplah yang semakin sulit.)

Dalam kaitan ini pula muncul sejumlah inisiatif yang diharapkan mampu mempertahankan eksistensi surat kabar. Dua di antara inisiatif teknologi yang dimajukan untuk berkembang, dan seiring dengan itu bisa membantu surat kabar, adalah iNews (berita melalui perangkat internet) dan e-book (buku elektronik).

iNews

Sebelum ini, salah satu model bisnis untuk mengangkat industri musik adalah melalui apa yang dilakukan Apple dengan toko musik online-nya yang terkenal, iTunes, yang tahun lalu menjual 2,4 miliar track (lagu).

Yang disediakan oleh Apple kemarin ini adalah antarmuka pengguna yang mudah digunakan dan kerja sama luas dengan perusahaan musik. Dengan itu, petinggi Apple, Steve Jobs, bisa membantu bisnis (industri musik) yang nyaris ambruk akibat maraknya aktivitas bertukar lagu (file sharing). Memang dengan itu Apple dituduh mengerdilkan merek besar. Tetapi, itu tetap ada baiknya karena toh perusahaan musik yang dikerdilkan tadi masih tetap hidup sampai kini.

Pengelola bisnis surat kabar pun bisa waswas bahwa Apple bisa melakukan hal yang sama terhadap mereka. Caranya juga sama, meyakinkan jutaan pembaca yang tertarik, yang selama ini mendapatkan berita secara gratis melalui situs surat kabar—seperti kompas.com—untuk membayar.

Pilihan ini memang tampak lebih ditujukan untuk menyelamatkan institusi pers karena manakala pendapatan merosot, yang terancam bukan hanya perusahaan yang memiliki koran, tetapi juga berita yang dihasilkannya (David Carr, Could an iNews rescue papers?, IHT, 13/1)

Ide mencari bantuan juga dilakukan sejumlah media lain karena jelas ”gratis bukan sebuah model (bisnis)”. Cook’s Illustrated yang punya resep segudang dilanggan oleh 900.000 orang dan ecerannya mencapai 100.000. Selain itu, perusahaan ini punya 260.000 pelangganonline yang membayar 35 dollar AS per tahun. Pertumbuhannya mencapai 30 persen tahun 2008.

Di luar itu, tetap harus diakui, paham gratis masih dominan di dunia maya. Yang piawai tentu Apple, yang bisa membujuk pembeli gadget-nya untuk mau membayar musik yang dibeli. Jobs melihat musik sebagai bisnis perangkat lunak untuk memacu penjualan iPod dan iPhone. Bisnis musik tidak sepenuhnya senang dengan itu, tapi terbukti bisa membujuk pendengar membayar isi (lagu) untuk perangkatnya.

Dengan alam pikir ini pula dipikirkan gadget yang juga bisa diterapkan untuk koran. Misalnya iPod touch yang akan diluncurkan musim gugur tahun ini, dengan ukuran layar 18 sampai 23 cm.

Untuk e-book ada strategi lain. Amazon, yang sebelum ini telah membuat alat pembaca buku elektronik bernama Kindle, belum lama ini mengatakan bahwa selain dengan Kindle, buku elektronik juga akan bisa dibaca dengan smart-phone. Plastic Logic, pembuat alat e-reader lain, kini juga telah membuat persetujuan dengan sejumlah majalah dan surat kabar (The Economist, 14-20/2).

Skenario serupa seperti diuraikan di atas untuk iNews—yakni dengan pembundelan pemasaran antara alat dan isi (content) diharapkan bisa diterapkan—untuk alat-alat pembaca e-book ini. Dengan itu, meski koran dalam wujud tradisionalnya surut, lembaganya diharapkan bisa tetap lestari.

Komentar bertahan »

Lanjutan seamless communication

Salam,

Kalau posting yang ini baru dari laptop. kembali ke masalah seamless communication. Kalo Henry Jenkins bicara mengenai convergence culture antara old and new media. Maka fring adalah salah satu contohnya. 3 tahun yang lalu kita masih terpana dengan fenomena facebook, tahun lalu kita masih terpana dengan fenomena twitter, saat ini kita mulai terpana dengan fenomena semantic applications dan convergence applications. Ada yang mengatakan ini adalah bagian dari ubiquitous technology atau augmented application. Apa yang saya lihat bahwa sejarah selalu terulang dan saat ini apa yang dialami social media sama dengan apa yang dialami software development lainnya, mereka kemudian bersatu. Sudah merupakan nature of human bahwa insting kita akan selalu menuntut kita lebih menyenangi hal yang sederhana. Tahukah anda lukisan yang paling indah? bukan monalisa yang ada di Louvre. Saya sudah lihat itu monalisa, gak ada bagus2nya. Kalah ama sketsa wajah dari Leonardo da Vinci yang saya lihat di Parma. Ini menurut saya. Tapi saya mengerti mengapa orang menyenangi monalisa. Karena lukisan ini menyatukan ide2 kita tentang keindahan. Tidak ada yang lebih indah daripada sebuah gambar lingkaran yang sempurna. Ada sebuah cerita bahwa pada abad pertengahan ada seorang raja di eropa yang meminta seorang filsuf yang juga seorang ahli lukis untuk melukiskan lukisan terindah di dunia untuknya. Tahu apa yang digambar oleh pelukis-filsuf itu? dia menggambar sebuah lingkaran sempurna dengan satu tarikan. Pesan yang dibawa oleh sebuah gambar lingkaran sempurna itu sangat kuat, sebuah kesempurnaan. Sebuah awal dan akhir di saat yang bersamaan.

 

Insting manusia juga yang mengajarkan estetika untuk menyenangi keseluruhan (wholeness), kesederhanaan (simplicity), dan  kebersatuan (uniteness). Melihat fenomena bergabungnya social media developers seperti social networking sites yang akhirnya merujuk pada satu website, facebook. Hal ini menunjukkan bahwa estetika manusia memang belum berubah. Saya kira, melejitnya perkembangan facebook tidak karena sites yang lain buruk atau tidak menyediakan fasilitas yang sama. Semua Social Networking Sites (SNS) mempunyai fasilitas yang hampir sama. Tetapi sejarah lah yang mengarahkan kita bahwa kita sebenarnya menyukai kebersatuan (uniteness). Dan kita memilih facebook, despite berbagai alasan, karena kita menginginkan hak yang sebenarnya sederhana. Satu SNS untuk semua fasilitas, itu saja. Tanggapan yang sama juga saya kenakan pada Fring app untuk iPhone ini. Fring menyatukan hampir semua accounts chat yang popular di internet. Kemampuan fring untuk bisa di embed di berbagai tipe cell phone membuatnya sangat kuat sebagai contoh trend mobile communication next decade; murah, seamless karena geo-independence dan interoperable, tidak hanya tergantung pada satu device.

Komentar bertahan »