Presentasi Social Software and Knowledge Sharing
Berikut ini adalah presentasi dari artikel sebelumnya tentang Social software and knowledge sharing, enjoy!
Berikut ini adalah presentasi dari artikel sebelumnya tentang Social software and knowledge sharing, enjoy!
Berikut adalah artikel berdasarkan international group project yang terdiri dari saya sendiri (Indonesia), Fathimath Shiham (Maldives), Federica Marangio (Italy), Karl S. Eggarter (Austria), Shirin Zwarthoed (Netherlands) untuk bidang Information and Knowledge Management (IKM) di Tallinn University, Spring 2008. Artikel ini tidak mempunyai signifikansi yang begitu kuat tetapi memberikan temuan yang berharga tentang hubungan antara self-efficacy dan pengembangan dari social software. Saya akan tampilkan abstract-nya saja untuk artikel lengkap silahkan di download. Enjoy!
————————————————————————————–
Understanding the relationship of Social Software and Knowledge Sharing;
An Auspicious state of affairs for Academic Libraries
Abstract:
Purpose: This paper’s aim is to give a short overview of the present developments and ideas concerning knowledge sharing in social software and the prospects as well as the opportunties it entails for academic libraries. Hence in general, this paper also, as one of many information studies, attempt to provide information for students or researchers who are studying implementation of social software in libraries.
Design/Methodology/Approach: This paper presents a review based on literatures findings including definitions of social software and knowledge sharing also instances of implementation of social software in academic libraries.
Findings: Self-efficacy, as ability, together with ties and capabilities in human network can be seen as factors that motivate people to sharing their knowledge. Social software is a web technology which mediated people to share their knowledge hence building online identities. Thus relation between social software and knowledge sharing is clear. By having motivation factors people are more eager to enhance their knowledge by sharing each other through social software nevertheless social software create desire for people to be more motivate in terms of knowledge sharing. Academic libraries are one of many institutions which can take advantages from this process.
Originality/value: The study reveals relationship between social software and what motivated people to share their knowledge through this advance of web technology. Its highlights some efforts from academic libraries to implement social software thus being more connect to their users.
Keyword: Social software, Knowledge sharing, Academic library
Paper Type: Literature review
Selanjutnya…
Salam Damai,
1,5 bulan lalu saya mendapat pertanyaan dari Ms. Nora Abdul Azis yang saat ini sedang meneliti tentang media ethics di negara-negara Islam dan atau dengan penduduk mayoritas Islam, dari profilenya di facebook saya baru tahu bahwa Ms. Nora juga dosen di Univ. Industry Selangor, Malaysia, hmm we’re collegue then… The questions are, “Are there similarities between media ethics practiced in Western and Islamic traditions? Do you think we can really practiced this Islamic based Media Ethics in our region ie. Islamic Countries?” Sebelumnya saya harus katakan bahwa saya tidak mempunyai background yang mendalam mengenai etika media atau khusus meneliti tentang ini karena itu pendapat yang akan saya kemukakan lebih mendasar pada pengamatan saya sebagai peneliti di bidang komunikasi dibanding pakar etika media nevertheless, saya akan usahakan untuk menjawab pertanyaan yang Ms. Nora ajukan dengan semampu saya.
Diskursus tentang etika media tidak akan pernah habis-habisnya selama media sebagai institusi terus berdiri. This subject involves dua hal yaitu etika dalam konteks perilaku manusia dan eksistensi media karena itu pendekatan terhadap etika media menurut saya bisa dilakukan melalui dua arah yaitu pertama, melalui pendekatan perilaku manusia (behaviorism) despite social atau personal. Kedua, melalui pendekatan studi media. Merespon pertanyaan whether any differences between media practices in western and Islam tradition, jawabannya tentu saja ada. Jika kita melihat perbedaan antara paradigma barat dan Islam dalam institusi media kita bisa melihat di dalam sejarah media itu sendiri, dalam sejarah buku misalnya, bagaimana pengaruh dari penemuan Gutenberg telah merubah komposisi intelektualitas international termasuk dengan lahirnya Al-Qur’an versi cetak.
Etika pada dasarnya menjawab pertanyaan ‘How’ dari perilaku manusia karena itu dalam etika media pertanyaan besarnya adalah bagaimana media seharusnya berperilaku di dalam kehidupan manusia especially di dalam masing-masing konteksnya (western and Islamic). Jika ada ketentuan maka ada pelanggaran, dan inilah yang menjadi daya tarik kita mempelajari etika media. Saya tidak akan melanjutinya ke ontology dari etika media takut terlalu jauh nantinya, tetapi saya akan kembali ke pertanyaan perbedaan etika media dunia barat dan Islam melalui contoh-contoh yang bisa saya ingat. Di setiap peradaban selalu ada anomali budaya, dalam etika media barat anomali etika media antara lain aspek politisasi dari pesan-pesan yang dibawa media, misalnya MTV dan stereotype anak muda dunia. Di dunia Islam, praktik-praktik anomali yang saya ketahui antara lain penerapan konsep Haram untuk disimak terhadap beberapa isi media, dan di Indonesia terutama masalah pornografi dan pornoaksi seperti foto syur Max Moein misalnya.
Jika kita melihat reaksi masyarakat di mana anomali tersebut muncul kita bisa melihat bahwa masyarakat selalu merefleksi pada aturan kemasyarakatan yang mereka ketahui, artinya bahwa etika media adalah sebuah refleksi dari perilaku media oleh aturan yang dibuat masyarakat. Jika aturan tidak ada maka tidak ada etika yang dilanggar oleh media whatsoever. Karena itu, untuk menjawab pertanyaan kedua apakah kita bisa benar-benar menerapkan etika media menurut Islam atau di negara-negara Islam saya melihat bahwa hal tersebut adalah realistis dan bisa diterapkan. Alasan saya yaitu bahwa Negara-negara Islam atau dengan mayoritas penduduk Islam seperti Indonesia dan Malaysia umumnya sudah mempunyai aturan tentang bagaimana media seharusnya berperilaku ada yang formal seperti Kode Etik Wartawan dan Undang-undang Pers dan ada juga yang informal seperti konvensi dalam meliput berita dan memberitakan konflik. Dengan sudah berdirinya infrastruktur tersebut maka penerapan etika media ‘versi’ negara-negara Islam akan berjalan dengan baik.
Jawaban di atas mungkin tidak memuaskan anda dan dirasakan kurang lengkap, karena itu saya mengajak anda untuk berdiskusi dengan meninggalkan comment di blog ini. Terima kasih atas perhatiannya.
Berikut adalah essay saya tentang film semiotic, ide besarnya adalah menerawang intertekstualitas pada film-film Indonesia. Analisa pada essay ini masih terbatas oleh jumlah maksimum kata yang boleh ditulis (dikarenakan ini adalah bagian dari tugas akhir film semiotic course yang saya ikuti) tetapi kedepannya akan saya jabarkan lebih lanjut lagi intertekstualitas pada film-film indonesia dengan lebih beragam perspectives selain itu untuk diagram greimas sepertinya tidak tercopy di dalam blog ini karena formatnya PNG. tetapi sebagai gambaran bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Semiotic_square1.svg. Anyway, enjoy.
—————————————————————————————
—————————————————————————————
In 2004, Indonesian film public was served by 31 commercial Indonesian films; the growth is more than 100% than a year before[1] and this condition kept growing in the next year. Despite of the influence from the global economy of Hollywood and Bollywood movies, also even though most of the films still presents romance and horror genre, two of the most popular film genres for Indonesian spectators, this progress however can be seen as resurrection of Indonesian film industry after being almost dead for 15 years. The implication for this growing condition emerged new phenomenon of Indonesian films fandom. After all those years being educated by western films, these fans brought their appreciation to Indonesian film screens and began to raise their spectator view to cultic the films. These phenomena imply to the question whether there are cult films in Indonesian films and for me, it brings curiosity of how the film semiotic analysis can be applied for such films. However, the most challenging part is to find which film can represent the condition of Indonesian cult films moreover attractive enough from semiotic and communication point of view.
My decision comes to film Nagabonar Jadi 2 based on several indicators; first, this film is a sequel therefore it has causality and conceptual relation to the first movie. Second, Nagabonar Jadi 2 emerged as a proposal in order to appreciate and communicate representation of new Indonesian nationalism by using the setting of contemporary everyday life condition in Indonesia. Some other films that were premiered almost in the same time with Nagabonar Jadi 2 like Gie (2005) for instance also carried the same theme which was nationalism but indifferent settings and nonetheless only showed portraits of history where character Gie[2] existed. Despite of forced ideology, in my opinion, similar plays also can be seen in 1980’s Indonesia government propaganda films such as Serangan Fajar (Dawn attacks), and G 30/S PKI.
Third, after some read, more or less, two hundreds comments, blogs[3], reviews, e-news and discussion threads in internet of which the range of publication was from March 2007[4] to March 2008 (a year after the film premiered) I found that most of those spectators thought that this film reminded them about nationalism. Nonetheless, even the Indonesian vice president, Jusuf Kalla[5] also admitted that this film had strong nationalism and religiosity message. He is one of the most influential public opinion leaders and also head of the biggest Indonesia political party with more than 30 million constituents therefore his appreciation not only projects Indonesian film public opinion but also himself as a spectator. This essay mainly discusses about intertextuality within Nagabonar Jadi 2 and attempts to bear its narrative meaning using Greimas’ Rectangle, one among other semiotic methods.
About the movie
Nagabonar Jadi 2 (Nagabonar Becomes 2) is a comedy movie starring Deddy Mizwar and Tora Sudiro as the father and the son. This movie is a sequel to 1986 hits movie Nagabonar. The story is still about Nagabonar (Deddy Mizwar), a pickpocket who became a general during independence war. But now Nagabonar lives in the big city with his son Bonaga (Tora Sudiro), a businessman. Along with his three friends, Pomo (Darius Sinathrya), Ronnie (Uli Herdinansyah) and Jaki (Michael Muliadro) they run a big business. Conflict comes when Bonaga wants to sell his father’s palm plantation. Monita (Wulan Guritno) a consultant to Bonaga’s business tries to settle down the conflict between Bonaga and Nagabonar. Some interesting scenes are when Nagabonar gives salute to the statue of General Sudirman, an Indonesia national hero from independence war, his monologue (47:35) with one of Indonesian national song Padamu Negeri (To You, My Country) as the musical background is considered as the peak for the film.
Film Semiotic
Film semiotic has influenced from three persons; Christian Metz, Juri Lotman, and Roland Barthes. The main question in applying semiotic as interpretation method for film is how does the film signify?[1] Since the film talks through conventional signs or according to Metz through film language, therefore the challenge in film semiotic is to find the truth of signification meaning thus being able to say what ‘Exist’ is ‘Truth’. In general terms, Danesi (2002) slightly disagrees with Metz proposition of how film can be viewed as having the same structural features as language. In his opinion, it is more accurate to say that the cinematic text expands the categories of language by blending dialogue, music, scenery, and action in a cohesive way.[2] For this reason, he said, “it can be characterized as a composite sign made up of verbal and non-verbal signifiers.”[3]
Rose (2007, also Kress et.al, 2006) argues that ideology also plays important role to signification prominence. Taking the idea from Williamson (197
and Barthes (1973), Rose emphasizes on structural spatialization of sign metaphor hence will lead to metonymic[4] and or synecdochal[5] signs. Kress (et.al, 2006) underpins those posits by took Metz (1974a, 1974b) argumentation on visual structuring. He notes that visual structuring has either been treated as simply reproducing the structures of reality rather than as creating meaningful propositions by means of visual syntax, or discussed in formal terms only.[6] Later, Kress said that visual structures do not simply reproduce ‘reality’. On the contrary, they produce images of reality which are bound up with the interest of social institutions within which the images are produced, circulated and read. Visual structures are never merely formal: they have deeply important semantic dimension.
Barthes has pinpointed that once the Author is removed, the claim to decipher a text becomes quite futile. To give a text, an Author imposes a limit on that text, to furnish it with a final signified, to close the writing.[7] He also mentioned in his fine words; “the birth of the reader must be a cost of the death of author”.[8] This proposition implies that the center of generated meaning no longer in the hand of creator nevertheless being emerged by the text reader. In Structural Analysis of Narratives, Barthes, by mentioning Greimas, also explained text narratives as playing ground for actors (subject-characters) and actants[9] thus the narrative itself becomes the language.[10]
The Greimas’ Rectangle
Algirdas Julien Greimas, a Lithuanian linguistic and semiotician, has proposed a set of logic, based on Aristotle square of opposition, as elementary structure of signification, marking off the oppositional logic that is at the heart of both narrative progression and semantic, thematic, or symbolic content.[11] Lenoir (1994) attempts to give a short brief of Greimas’ proposition as follows:
”The semiotic square is a mean of articulating the semantic structure of signification in terms of binary oppositions or alternatives. Greimas emphasizes that the oppositions gave rise to meaning are a far richer set than contradiction, the either/nor of binary logic. Elaborating on three types of relationship– contradiction, contrariety, and complementarity–he established an exhaustive set of oppositions forming a dialectical logic with four positions rather than three, as in Hegelian dialectic. Giving a particular concept–Greimas illustrates its use with an example from Levi-Strauss’s discussion of “life” versus “death” in “The Structural Study of Myth”–one can use the semiotic square to unpack its semantic content by specifying the fields of difference, opposition, and separation in which it is embedded with respect to other concepts.
Greimas describes the square’s fourth position–which I regard as its most engaging aspect–as explosive. Commentators have depicted it as the “negation of the negation” in Hegelian terms; as such, Jameson notes, the fourth position in the square is frequently enigmatic, opening the possibility of a productive leap to the elaboration of a new system of meaning. In his excellent discussion of Greimas’s work, Schleifer has shown how this process works, using the fourth position as the opening to an ever-widening web of “zones of entanglement.” Intuitively, one can see the appeal of the square for practitioners of cultural studies. They hope that the semiotic square will bring to light the webs of signification constituting the meanings of a text; they believe that it may articulate the intertextual linkages between different domains as well as the underlying assumptions organizing particular cultural fields.”[12]
The semiotic square consist binary opposition of concepts and its negation based on Hegelian term in dialectica. The relationships are:[1]
The semiotic square also produces, second, so-called meta-concepts, which are compound ones, the most important of which are:
Hence, I will combine this set of semantic logic with the concept of intertextuality which I will take from Umberto Eco article about film Casablanca.
Eco’s Intertextuality
In his ‘cult’ article about film Casablanca, Eco proposed the concept of intertextuality regarding the kind of requirements that can transform a book or a movie into a cult object. “The work must be loved, obviously,” he said. Then, “…but this is not enough. It must provide a completely furnished world so that its fans can quote characters and episodes as if they were aspects of the private sectarian world.” Later he bares the concept of ‘common frame’ and ‘inter-textual frames’ as the visual narrative variables in order to analyze films.
What he meant by ‘common frame’ was “a sequence of actions more or less coded by our normal experience”,[2] and by ‘inter-textual frames’ he said “I meant stereotyped situation derived from proceeding and recording by our encyclopedia, such as, …duel between the sheriff and the bad guy or the narrative situation in which the hero fought the villain and won….”.[3] Moreover, he proposed, instead of just recognized conventional inter-textual frames, audience apt to find more ‘magical flavors’ in a film. Those ‘magical flavors’ which are been textualized in film frames indeed transform a movie, such Casablanca, into a cult object. Although he admitted in Casablanca, there were more inter-textual frames, what he later called ‘inter-textual archetypes’, than ‘magic’ inter-textual frames.[4]
Findings
As has been mentioned by Eco, intertextuality emerges from our ‘encyclopedia’ of textuality therefore one must bear their own frame of references first before they put identification as to which text does a film scene relate to. In film Nagabonar Jadi 2, due to my lack of Indonesian film references probably, I am quite surprised that I could not find as much intertextuality as I expected. Some do, but some don’t, most of scenes I would consider it merely common frames. Indeed some are conflicts and present something which profoundly interesting enough because historical plot of the film but mostly do not emerge sense of ‘magic’ or even specters, something which reminds me to something. However, for scenes which I consider have some intertextuality within it, I note my observation chronologically by time.
1. (02:30) Nagabonar’s monolog in front of his family graveyard.
2. (16:00) Nagabonar coaxes Bonaga to allow him to caressing Bonaga’s hair while he is sleeping. It’s an obtuse meaning for me and reminds me of Tora Sudiro (Bonaga) gay character in film Arisan (2003).
3. (31:27) Umar, a ‘bajaj’ taxi driver takes Nagabonar back to his house after being ‘lost’ in Jakarta. Umar character, played by Lukman Sardi, as a poor man also has a same position in Pengemis & Tukang Becak (197
aka The Beggar and the Rickshaw Man.
4. (40:00) Nagabonar gives salute to the monument of Indonesia founding fathers.
5. (47:35) Nagabonar’s second monolog in front of monument of General Sudirman, an Indonesia national hero from independence war, in the middle of one of Jakarta’s main way, the Sudirman Street. He also gives salute to the statue. In a glimpse it reminds me of Andre Stinky monolog with god in Kiamat Sudah Dekat (2003), a film which Deddy Mizwar (Nagabonar) directed and also played as one of the main actors.
6. (75:00) Negotiation between Japanese investors and Bonaga’s team to sell his father palm plantation. Bonaga does not tell Nagabonar yet about the buyer of his plantation
7. (79:45) Nagabonar’s furious when he knows that the buyer is Japanese. Japan was the last country which occupied Indonesia after The Dutch.
8. (93:35) Nagabonar gives salute in independence war heroes’ cemetery.
9. (102:3
Monita kisses Bonaga. It reminds me whan Kirana (Bonaga’s mother) kiss Nagabonar in the first film, Nagabonar. The same faith?
10. (108:45) flapping the national flag ceremony with an Indonesia anthem as the musical background, in this scene Nagabonar wears his ‘general’ hat and for the fourth time he gives salute. Every Monday morning, every public and government institution in Indonesia obligates to conduct this ceremony from 7 to 8 AM.
11. (111:15) Bonaga turn out the selling contract from the Japanese investors after he’s got news that his father injured after the flag ceremony. In this scene, bonaga, monita, umar, and three friends of bonaga gather near nagabonar bed. All of them wear white shirt except nagabonar himself.
An interesting dialog, often said in the film, is the sentence “Apa Kata Dunia?” (What the world would say?). For those who have watched film Nagabonar they will recall this jargon as part of Nagabonar character itself. This jargon semanticly has been used by Batak tribe, a tribe in north of sumatera island (Indonesia) where Nagabonar originate from, in their own dialect to express their ignorance about the condition around them. Dignity is the main value of human existence nevertheless for the people from this tribe; they are very concern about what their surroundings will think about them. Therefore, to Nagabonar this sentence is a way for him to express his awareness about what would happen if he becomes ignorant. I am not saying that other tribes in Indonesia do not have any expression about this, but what Nagabonar says uniquely represents his cultural background and Indonesian spectators understandably capture this proposition.
Now, after capturing intertextuality in this film, the big question is what does this film stand for? What is the grand narrative this film attempts to emerge in the eye of spectators? Well, two things are clear—if I referred to what Barthes said about ‘obvious meaning’—obvious which are when gave Nagabonar salutes and the flag ceremony. In the film, spectator been brought back and forth between the present and who was Nagabonar. The first monolog in his family graveyard, his visits to the statues of the founding fathers, his meeting with Maryam—an old friend from independence war, and more over is his salutes. A salute is not something you do instantly or instinctively, when you give salute you give your respect and for Nagabonar respect is same like dignity, his born with it, he lives with it and he will die for it.
Salute also becomes conventional sign in this film. As in other nationalistic films like Air Force One for instance, Saving Private Ryan, or even Men of Honor, we are moved when we see the actor gives salute to whatever he saluted for, it’s could be flag, monument, an army or even to a dog. The acts become cult because everyone in this world knows what a salute means, indeed there are many forms of salute but they have a same meaning, a respect. Thus salute rise as a synecdoche along with flapping the national flag, sign of nationalism. From this point, I find four narrative propositions as (S1) nationalism, (S2) anti-nationalism, (~S1) non anti-nationalism, and (~S2) non nationalism. These narratives disseminate within Nagabonar Jadi 2 and spectators can see as long as the film;
Another interesting scene is when Monita kisses Bonaga, for spectators who do not see the first sequel, he or she would feel it’s just a common kiss, nothing more nothing less. However, one who has seen film Nagabonar would feel repetition because such an act also happened to Nagabonar. It is different actors and settings, how could one consider it as a repetition? Indeed they are indifferent in sense of text appearance but they have the same context. In the first film, Nagabonar was told as a person who has problems getting along with woman—as some men do, he has a problem expressing his feelings to Kirana (Bonaga’s mother) that’s why Kirana kisses Nagabonar. The same situation also emerges in Monita-Bonaga relationship. This is like an idiom, “like father like son”.
Conclusion
Nagabonar Jadi 2 indeed has some intertextuality with other films, especially Indonesian films, but needless to say it has ‘magic’ intertextuality since those scenes are not profoundly enough. There is neither a magic door nor a key like in Eco’s analysis on Casablanca but there are some unique scenes where the spectator will feel inter-relation between Nagabonar Jadi 2 and its predecessor, Nagabonar. Using Greimas’ Rectangle I found four propositions of narrative within the film which are nationalism, anti-nationalism, non nationalism, and non anti-nationalism. Salutes and flapping the national flag are the synecdoche of nationalism in this film. However, Nagabonar Jadi 2 is not a cult film as many of the scenes can be illuminated by its first sequel and not the other way around. Thus it is not ‘magic’ enough to be loved.
[1] See http://en.wikipedia.org/wiki/Semiotic_square.
[2] The translation version of Eco’s work regarding this matter was in Eco, U. (1986). “Casablanca”: Cult Movies and Intertextual Collage. In U. Eco, Travels in Hyper Reality: Essays (p. 197). New York: Harcourt Brace Jovanovich. However, quotation I taken was from selected articles in BFM Film Semiotics class (spring 200
reading requirements and nevertheless it was same article from different books. Page 396.
[3] Ibid.
[4] Ibid. I also took these paragraphs from my previous paper about Eco’s intertextuality and cult films phenomena. My intention was to put that article about cult film as part of this article nevertheless perhaps I can combine it in the future work.
[1] I found such proposition during my study in Dr. James Thurlow film semiotic class in spring 2008 at BFM School Tallinn, Estonia, very interesting class indeed.
[2] (Danesi, 2002) page 122-128.
[3] Ibid.
[4] This kind of sign is something associated with something else, that then represents something else. See (Rose, 2007) page 87.
[5] This sign is either a part of something standing in for a whole, or a whole representing a part. See ibid.
[6] (Kress, Gunther & Theo van Leeuwen, 2006) page 47.
[7] The original text is in (Barthes, Image-Music-Text, 1977) however, quotation that I took was from selected articles in BFM Film Semiotics class (spring 200
reading requirements. page 147.
[8] Ibid.
[9] An “actant” is not simply a character in a story, but an integral structural element upon which the narrative revolves. See http://en.wikipedia.org/wiki/Actant.
[10] Barthes, Roland. A Barthes Reader. Ed. Susan Sontag. New York: Hill and Wang, 1982 in BFM Film Semiotics class (spring 200
selected readings.
[11] Felluga, Dino. “Modules on Greimas: On the Semiotic Square.” Introductory Guide to Critical Theory. See http://www.purdue.edu/guidetotheory/narratology/modules/greimas square.html retrieved on May 9th, 2008.
[12] Lenoir, Timothy (1994) Was That Last Turn A Right Turn? The Semiotic Turn and A.J. Greimas, Configurations, Vol.2. 119-136.
[1] Kompas, Sepuluh Tahun Terakhir Perfiman Indonesia (Indonesian films in the last ten years), July 2nd, 2005.
[2] Gie character was taken from real Indonesian activist name that was lived in Jakarta around 60’s and 70’s.
[3] Most of the blogs only told about experience they had after watched the film however some blogs also gave critics and good reviews on films such as (in Indonesian language); http://ericsasono.multiply.com/reviews/ item/40, and http://biangpenasaran.blogspot.com/2007/06/marketing-nagabonar-jadi-2.html
[4] The official film date of publish was March 29th, 2007.
[5] See http://www.antara.co.id/arc/2007/5/7/wapres-akui-nagabonar-jadi-2-luar-biasa/
”We know more than we can say
We say more than we can write”
–Michael Koenig, spring in Tallinn 2008
Mempelajari pengetahuan tidak berarti apa-apa jika kita tidak mengekpresikan apa yang kita ketahui ke dalam kata-kata. Dalam diskusi kita mengenal diri kita lebih baik tetapi dalam tulisanlah kita mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Tidak semua orang adalah pujangga akan tetapi semua orang adalah pencerita yang baik, dan menulis adalah tidak lain dari cara lain untuk bercerita. However, saya bukan pujangga tapi saya kira saya bisa jadi pencerita yang baik. Karena itu, saya akan berusaha menceritakan kembali apa-apa yang sudah saya ketahui dan baca. Penceritaan kembali, saya lebih suka menyebutnya begitu, karena mungkin apa yang saya tulis terlalu informal untuk dikatakan resensi atau kurang intelek untuk menjadi sebuah review.
Saya bukan berasal dari pustakawan, tetapi mempelajari ilmu kepustakawanan saat ini tidak ada bedanya dengan mempelajari teknik informasi atau ilmu informasi karena pada akar ilmunya memang tidak jauh berbeda. Saat ini, pustakawan harus peka terhadap teknologi internet khususnya web technology, tanpa dukungan teknologi tersebut pustakawan akan semakin ditinggalkan para penggunanya karena para
pengguna tersebut sudah lebih dahulu mengadaptasi perkembangan yang ada. Untuk itu, saya merekomendasi buku dari Meredith Farkas ini kepada anda. Sangat berguna bagi perpustakaan-perpustakaan yang berusah menerapkan teknologi library 2.0.
Mengutip Tom Coates, Farkas mendefinisikan sosial software sebagai software yang mendukung, memperluas atau menghasilkan suatu nilai tambah dari perilaku sosial manusia melalui fitur-fitur seperti papan pesan, pesan singkat, aplikasi untuk berbagi selera musik, foto, miling lists, jejaring sosial. Social software mempunyai karakteristik setidaknya dua dari tiga point berikut ini:
a. Aplikasi tersebut mempersilahkan orang untuk saling berkomunikasi, berkolaborasi, dan membangun komunitas online.
b. Aplikasi tersebut dapat disindikasi atau memfasilitasi sindikasi, diperbagikan, digunakan kembali, atau digabungkan.
c. Aplikasi tersebut memudahkan orang untuk belajar dan menekankan pada perilaku atau pengetahuan dari yang lainnya.
Lebih lanjut Farkas memaparkan manfaat blogging bagi kepustakawanan saat ini dan kedepannya serta tips-tips menerapkan blog yang baik bagi perpustakaan. Selain blog, fitur-fitur web 2.0 lain yang dipaparkan Farkas antara lain RSS, wikis, online communities, social networking, social bookmarking and collaborative filtering, podcast, vodcast, hingga gaming. Keunggulan dari buku ini menurut saya terletak pada contoh-contoh yang diberikan Farkas, pembaca disajikan sejumlah referensi situs sehingga mengerti bagaimana tampilan sesungguhnya dari pemanfaatan teknologi ini. Jika anda menganggap buku ini adalah buku teknik seperti buku-buku pemrograman anda dipastikan keliru karena tidak ada penjelasan teknik atau uraian bahasa pemrograman sama sekali di dalam buku ini. Farkas mempunyai latar belakang sebagai pustakawan karena itu buku ini mempunyai perspektif pustakawan dalam penulisannya.
Mari kita memfokuskan pada pemanfaatan situs jejaring social bagi perpustakaan. Farkas berpendapat bahwa seseorang menggunakan situs jejaring social untuk menampilkan identitas dan jaringan sosial yang mereka miliki dan membangun hubungan yang baru berdasarkan hal tersebut. Farkas merunut proposisi nya tersebut kembali ke pertengahan tahun 60-an ketika Stanley Milgram bereksperimen untuk menentukan struktur dari jejaring sosial manusia. Farkas kemudian membagi tipe situs jejaring sosial menjadi 4 yaitu; social networking untuk generasi X (mereka yang lahir pasca 1970-an), social networking untuk Millenials (yaitu mereka yang lahir pasca 1990-an), social networking untuk bisnis, dan mobile social networking. Farkas menekankan bahwa pemanfaatan situs jejaring social lebih mengarah pada suatu perilaku yang lebih mengedepankan penciptaan identitas di dalam sebuah komunitas dibandingkan sebuah kolaborasi untuk tujuan tertentu.
MySpace dan Facebook adalah dua situs jejaring social yang banyak direferensikan oleh Farkas untuk para pustakawan. Tidak hanya untuk menampilkan profil perpustakaan atau dirinya sendiri, Farkas menunjukkan manfaat lain dari situs jejaring social antara lain untuk riset pasar dan membangun komunitas online dengan para pengguna (patrons). Perlu digarisbawahi, bahwa perpustakaan atau pustakawan sendiri tidak cukup hanya menampilkan profil, lebih dari itu, mereka harus berkomitmen untuk terus menerus meng-up date informasi yang ada. Kata kunci dari kesuksesan pemanfaatan situs jejaring social bagi perpustakaan dan atau pustakawan adalah ”keep coming back” (tetap kembali), maksudnya adalah situs jejaring social harus mampu menarik para pengguna untuk terus menerus mengunjungi profil perpustakaan atau pustakawan, membangun hubungan yang baik dan berimbas pada peningkatan performa dari perpustakaan atau pustakawan itu sendiri. Hal ini bisa dicapai dengan mempersilahkan pengguna untuk berkomentar, memberikan masukan, berita, informasi bahkan daftar buku yang selayaknya dikoleksi perpustakaan.
Ini adalah kutipan dari blog Dan Farber di cnet news.com (10/05/08), seperti yang sudah saya katakan dalam posting saya tentang opensocial bahwa goggle akan memprakarsai global trans-API maka dengan di launch nya Friend Connect langkah tersebut semakin dekat untuk terealisasi. Saat saya menulis post ini facebook dan myspace sudah memulai trans-API tersebut, facebook dengan ‘facebook connect’ dan myspace dengan ‘data avalaibility’ nya. Anyway, enjoy!
————————————————————————————–
Google is expected to join the social network data portability crowd with “Friend Connect” on Monday. TechCrunch speculates that Friend Connect will be a set of “APIs for Open Social participants to pull profile information from social networks into third party websites.”
Google will join Facebook and MySpace, which launched ways to port user data to partner sites this week. Facebook Connect will provide the hooks to let users port their friends, profile photos, events, and other data across the Web to partner sites. MySpace on Thursday announced Data Availability, with Yahoo, eBay, Photobucket, and Twitter as initial partners for its effort to let members port their data.
Yahoo is partnering with the leading social networks so its users can take advantage of the freeing of user data, and it will also be crafting its own social network and APIs as part of its forthcoming Yahoo Open Strategy.
TechCrunch’s Mike Arrington reasons:
The reason these companies are are rushing to get products out the door is because whoever is a player in this space is likely to control user data over the long run. If users don’t have to put profile and friend information into multiple sites, they will gravitate towards one site that they identify with, and then allow other sites to access that data. The desire to own user identities over the long run is also causing the big Internet companies, in my opinion, to rush to become OpenID issuers (but not relying parties).
With 70 million users, more than 20,000 Facebook applications, and about 350,000 developers, Facebook has a major scale advantage over Google’s Orkut. MySpace has the advantage of an even larger user base, but lags Facebook on the developer and application fronts.
However, Google has been taking a more open and distributed approach with its OpenSocial API, which allows compliant applications to work across any social network. By extension, Friend Connect would provide glue to allow any site to add a social dimension and build connections to other social networks.
I spoke with David Glazer, Google director of engineering, in March about injecting the social graph and data portability into the core fabric of the Web. He said the big challenge isn’t the technology but applying existing and emerging standards, such as OATH (secure API authentication), OpenID (identity management) and OpenSocial APIs (application integration).
The key for all the data portability efforts (check out the DataPortability Project) is that users have granular controls to manage their data and to maintain privacy and security. Facebook and MySpace have not fully disclosed how their privacy controls will work yet. Stay tuned for more details on Google’s Friend Connect and the next chapter of “The Making of the Social Web.”
Berikut adalah kutipan dari artikel di Kompas (09/05/2008), menurut saya artikel ini menarik karena selain berdasarkan wawancara kompas dengan ‘Bill Gates’ via email, artikel ini menunjukkan visi microsoft untuk masa depan digital media di masa depan. enjoy!
————————————————————————————-
William (Bill) H Gates, pendiri Microsoft Corporation dan orang terkaya di dunia karena penemuannya mengembangkan sistem operasi komputer yang digunakan ratusan juta orang diseluruh dunia, merasa yakin perangkat lunak dan teknologi digital adalah perangkat yang sangat bertenaga untuk menghadapi dan menyelesaikan berbagai isu dan tantangan yang dihadapi berbagai orang dan masyarakat.
Dalam wawancara lewat e-mail, Kompas menanyakan tentang dampak kenaikan harga minyak bumi terhadap kelangsungan industri teknologi komunikasi informasi yang menggunakan banyak sekali tenaga listrik? Walaupun Bill Gates tidak melihat adanya keterkaitan dengan solusi-solusi berbasis perangkat lunak, ia mengatakan, banyak hal yang bisa ditawarkan teknologi informasi untuk menghadapi persoalan dunia sekarang ini.
”Sekarang, industri perangkat lunak menawarkan teknologi yang bisa membantu bisnis dan individu untuk mengurangi konsumsi tenaga listrik ketika mereka menggunakan komputer. Kita juga banyak melakukan kemajuan menuju terciptanya sebuah generasi baru datacenter yang memberikan efisiensi sumber energi dibanding yang ada sekarang,” kata Gates.
Ditambahkan, persoalan ini menjadi penting karena jasa internet dan penggunaan komputer menjadi lebih menyebar, serta jumlah datacenter akan terus meningkat. ”Bersamaan dengan jalannya waktu, kita akan melihat solusi perangkat lunak yang akan memainkan peranan besar dalam membantu individu dan perusahaan-perusahaan untuk menggunakan energi lebih efisien,” ujar Bill Gates.
Disebutkan, perangkat lunak akan menjadikan rumah dan bangunan menjadi lebih cerdas, sehingga orang-orang akan menggunakan energi seperlunya untuk penerangan, mendinginkan atau memanaskan ruangan. ”Kemajuan perangkat lunak memungkinkan bisnis untuk merancang ulang berbagai produk, sehingga keseluruhan proses penggunaan energi dan sumber daya alam menjadi lebih efisien. Dengan harga yang terjangkau, komputasi kinerja tinggi akan memainkan peranan yang pentin dalam penelitian ilmiah untuk membantu memahami dampak perubahan iklim dan berbagai dampaknya,” papar Gates.
Mekanisme revolusioner
Pada bagian lain, Bill Gates menyebutkan, sekarang ini kita memasuki sebuah periode kemajuan pesat dalam perangkat lunak dan keras, serta sistem jejaring yang akan menjadi katalisator kemajuan dalam kurun waktu 10 tahun yang akan datang yang akan melebihi perubahan-perubahan yang terjadi selama 30 tahun ini.
”Kita sudah melihat bagaimana teknologi bisa mentransformasikan cara kita berbagi pengalaman dan berkomunikasi, bersamaan semakin banyak orang menggunakan komunitas sosial online sebagai landasan untuk berinteraksi secara menyeluruh dengan orang-orang yang mereka peduli,” kata Bill Gates.
Dikatakan, teknologi telah mentrasnformasikan cara kita memelihara kenangan masa lalu, cara kita mengakses hiburan, cara kita belajar, serta cara kita memanfaatkan jasa-jasa kesehatan. ”Transformasi ini akan mencapai tingkat kecepatannya sendiri, karena metoda yang digunakan berinteraksi dengan teknologi berkembang menjadi lebih dekat mengikuti cara orang-orang saling berinteraksi,” jelasnya.
Ditambahkan, komputasi yang lebih bertenaga dan murah memungkinkan para peneliti untuk menyelesaikan berbagai persoalan sulit seperti pengenal suara dan tulisan tangan. ”Kita sekarang memiliki aplikasi pengenalan bahasa lisan dan tulisan dengan ketepatan yang tinggi, dan kita mulai melihat kehadiran berbagai antarmuka yang memasukkan suara, visi tulisan tangan, sentuhan, dan rabaan,” kata Gates.
Bill Gates juga mengingatkan tentang kemajuan teknologi tampilan yang akan memainkan peranan penting dalam kehidupan digital.
”Beberapa dekade ke depan, layar monitor akan menjadi lebih murah, ringan, memiliki portabilitas, dan berkembang terus menerus. Di masa depan, kita akan menghubungkan perangkat portabilitas kita dengan layar tampilan apa saja yang terdekat, atau memproyeksikan informasi ke permukaan apa saja yang tersedia,” jelasnya.
Dijelaskan kalau mekanisme masukan dan keluaran seperti ini memiliki dampak revolusioner, tidak hanya bagaimana kita berinteraksi dengan teknologi tetapi juga bagaimana kita berinteraksi satu dengan lainnya.
Perangkat lunak gratis
Ketika bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, Gates menawarkan perangkat lunak gratis kepada lembaga pendidikan di Indonesia pada tahun 2009. Pemberian perangkat lunak gratis itu akan direalisasikan jika dunia pendidikan Indonesia mampu secara besar-besaran menyediakan komputer di lembaga pendidikan dengan harga murah.
”Kalau kita bisa mendapatkan satu komputer dengan harga murah bagi sekolah-sekolah di Indonesia, Bill Gates mengatakan, ‘200 dollar AS’, maka Microsoft menawarkan satu perangkat lunak gratis,” ujar Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie dalam jumpa pers usai pertemuan. (inu)
Berikut adalah essay saya tentang aspek komunikasi dari performa digital library dengan penggunanya. Mengapa saya menekankan pada aspek komunikasi lebih khusus lagi mengapa developer dari digital library perlu mengetahui siapa kah penggunanya dan bagaimana berkomunikasi dengan mereka adalah karena pada saat ini dan kedepannya perkembangan dari digital library ataupun perpustakaan secara umum sebagaimana yang diungkapkan Pomerantz (2007) lebih banyak ditentukan oleh keinginan pengguna. Pengaruh social software, trans-API, dan interkoneksi yang semakin cepat (the grid) adalah faktor-faktor yang akan menjadi dominan selain makin tingginya kebutuhan akan ruang (space) bagi manusia. Essay ini adalah preliminary study dari teori komunikasi nya secara keseluruhan tetapi di essay ini saya sudah mengajukan dua model yang bisa menjadi rujukan di dalam diskusi computer-mediated communication kedepannya, enjoy!
————————————————————————————-
————————————————————————————-
Ideology in practice always forms rationalizations in human activity including from human interaction with every day technologies. Habermas (1984) called that practice as a rationally motivated binding. This rationality encourages me to take deeper understanding how human mingled themselves with rapidness impact of technology. My interest in human-computer interaction and digital media met their eyes with my study about human resource management in digital library especially when it evolves how digital library as an institution interact, or in wider sense, communicate with their user. It is interesting indeed to quest such curiosity since arrays of web technologies are growing fast and digital library nonetheless taking place as an entity in this stream. Users for digital library must be seen as integral part of institution performance. They are inevitable (Podnar, 2006) as like customers to trading company, tourists for travel agency. Hence, users are no different with other stakeholders; as Freeman (in Ylaranta, 1999) emphasized that without support from stakeholder, an organization would cease to exist.
Internet changing communication between stakeholders (Van der Merwe, 2005) and advances of web technology such as library 2.0 have affects the way library interact with their users (Curran, 2007). In my perspective, the way digital library interacting with their user emerge new conception of how library communicate to their stakeholders in which users is part of them depsite binary of internal and external. This involveness not only put boundary in align between digital library and traditional ones but also have distinguish perfomance of organisational communication in each institution. One among other interesting part in this new concept is it counts mental model of user as factor that affects user behavior thus being projected into their series of action through digital library web interface. Sherman (in Riva, 2001) have discussed models such Reduced Social Cues and Hyperpersonal Communication as nature of computer-mediated communication and factors in cyberpsychology. He pinnings that those models enable researcher to define more accurate and complete personalities and characters of CMC users nevertheless defining who the users are.
Constraints
Indeed there are many things can be discuss and follows in this matters. However, this essay aims to bring clarity only to a small gap in between communication of digital library and its user as stakeholder and try to propose models that appears from the process thus some constraints need to be pins. First, this essay only focuses the discussion on communication aspect of digital library with its users although it also comparing the process with traditional library communication performance. Second, it presumes that policies and programs considerably align same process within each institution. Third, this essay does not attempt to take more deeply into negotiation of meaning and technical consideration which occurs within interface interaction.
For terminologies, I took definition of communication from Cannon (1980) as he defined communication in the context of system as “Transfer of meaningful information from one location (the sender, source, originator, or transmitter) to a second location (the destination or receiver).” Since this essay also counts mental model, I used Doyle and Ford ( in Westbrook, 2006) proposition as “a mental model of a dynamic system is a relatively enduring and accessible, but limited, internal conceptual representation of an external system whose structure maintains the perceived structure of that system,” Other limitations that must be consider are I did not attempt to relates the models that I proposed with implications of hybrid library even though that must be really interesting to bear with. Other thing is this essay required reader understanding of whether communication system or at least whether communication is. This essay is not for beginners.
A Model of Interaction
In Exhibit 1. I proposed characteristics of communication process between library and its user, which based on two things, first, my experienced dealing with both digital and traditional library performance such as searching, browsing, and retrieving, cataloging, and borrowing books. Second ones, I took Pomerantz (2007) conception of seeing digital library as place therefore affects how users as stakeholder accessing the library. In digital library, I found user communication characteristics are;
· Low Presence: user only ‘in touch’ with screen despite interactivity the website might offer.
· Mediated: electronic media as the communication channel plays its role to succeed message from user. There always ‘in between’ and ‘relays’ situation and lack of nonverbal communication.
· Action-Perception-Action: user apt to behave according to perception they gained. They are not react instead they create new action.
· Screen/website: boundary between user and library performance is the user’s screen and digital library website.
Further in comparison with traditional library, I found user communication characteristics are;
· High Presence: user feels the tangibility of library.
· Face-to-face/Direct: communication practices between librarian and the user being enrich with nonverbal capabilities such to express user emotion directly.
· Action-Reaction: more short causality since it has less medium and what user being follows are based on library action.
· Desk: boundary between user and library performance is the front line desk.
From that comparison we could see the line between user and library institution are screen or web interface in digital library and front desk in traditional library. Either institution is emphasis on narrow action of user as tip of iceberg of entire user behavior and characteristics. Particularly in digital library process, model of interaction showed that relation of action and perception of user emerge within user mind therefore it create singular process of communication between user and web interface. That singular conception opens the opportunity to be drawn the process into a model of communication.
A Model of Communication
I develop my conception from Grunig (1992) theory of two-way symmetrical communication among public relation and company stakeholders also Morsing (2006) findings on stakeholder involvement strategy, which proposed the role of sensegiving and sensemaking between company and its stakeholders communication process. They emphasized stakeholder involveness hence build pro-active relations with corporate programs nevertheless also build equal roles in communication between them. Thus, I finally drawn the communication process between digital library and its user as stakeholder in Exhibit 2. I proposes that communication process between user and web interface of digital library whom the user being their stakeholder consist of three interdependendently area, their part and action are;

1. The user-web interface side:
2. The web interface and server side:
3. The digital library institution-web interface side:
Conclusion
The model of interaction and communication between digital library and user as their stakeholder has showed us that there are possibilities to involve user in development of digital library. Web interface is the edge of digital library performance therefore having a better understanding how to develop the web interface will enable digital library institution to perform better service and quality in the future. Though the theoretical and conceptual basis’ for this matter is in developing process since evolves interdisciplinary from other field of science nevertheless this essay can be taken as preliminary study.
Menyimak berita yang ditayangkan salah satu televisi swasta di tanah air beberapa hari yang lalu (09/04/200
tentang survey yang dilakukan salah satu website traffic researcher bahwa Indonesia menduduki peringkat nomor tujuh di dunia dalam mengakses situs porno membuat hati saya (penulis) terhenyak. Pertama, bahwa data 2 tahun lalu yang dijadikan rujukan tersebut kemunculannya bertepatan dengan mulai digalakkannya program pemerintah untuk memblokir akses situs porno di indonesia. Kedua, penulis membayangkan bagaimana reaksi pemirsa televisi setelah mendengar berita itu. Saya membayangkan para alim ulama akan mempunyai satu tambahan referensi alasan lagi. Seratus buat para guru, dan seribu alasan bagi orang tua di Indonesia untuk mulai peduli akan bahaya penyalahgunaan web (web abuse) terhadap anak-anak mereka. Ketiga, sebagai seorang akademisi, muncul rasa keingintahuan penulis terhadap data survey tersebut, apakah informasi tersebut benar adanya dan konteks apakah yang dibawa oleh informasi tersebut. Terlebih dalam pemberitaan tersebut, efek pengkotak-kotakan sangat terlihat sekali.
Kebetulan penulis sudah familiar dengan website yang memuat data tersebut, karena memang banyak dijadikan referensi penggiat IT internasional untuk data-data yang berkaitan dengan perkembangan dan trend web. Setelah mengakses dan melakukan pencarian, informasi yang penulis dapat lebih mengejutkan lagi. Hasil survey menunjukkan bahwa pemberitaan oleh televisi swasta tersebut keluar dari referensi keseluruhan data. Pemberitaan tersebut memotong satu bagian dari rentetan informasi yang ada. Untuk itu penulis merasa perlu untuk menjelaskan sehingga masyarakat akan dapat mempunyai gambaran utuh dari kondisi yang ada, tidak dipermainkan oleh pemberitaan yang sepertinya hanya ingin menguntungkan pemerintah dan mungkin salah satu penyedia perangkat lunak (software provider).
Data survey antara tahun 2005 dan 2006 tersebut dilakukan terhadap lebih dari 10.000 sumber, ditambah dengan statistik pencarian menggunakan mesin pencari (search engine) terhadap dua puluh kata kunci. Hasilnya? Sepanjang 2005-2006, setiap detiknya 28.258 orang mengakses sekitar 420 juta halaman situs porno. Setiap detiknya, 372 pengguna internet memasukkan kata kunci yang berhubungan dengan seksualitas pada mesin pencari. Setiap 39 menit, satu video porno di produksi di US. US?? Yap, Amerika Serikat (AS), dan data survey tidak berhenti disitu. China dan Korea Selatan adalah dua negara teratas yang paling banyak mendapat pemasukan (revenues) dari pornografi, keduanya pada tahun 2006 memperoleh US$ 53,13 milyar atau 488,796 triliun rupiah, lebih besar 5 triliun dari target pendapatan non-migas APBN RI tahun 2008.
Kembali ke posisi AS, data menunjukkan bahwa AS adalah negara produsen situs porno terbesar di dunia dengan jumlah 245 juta halaman web situs porno, jauh sekali dari Jerman (10 juta halaman) dan Inggris (8,5 juta halaman) yang berada dibawahnya. Survey ini banyak menampilkan data pasar situs porno di AS, karena memang sebenarnya survey ini ditujukan bagi pasar Amerika. Lalu, kenapa nama Indonesia tiba-tiba keluar? Seperti yang telah disebutkan diatas, survey ini diperkaya dengan statistik pengguna internet, dan nama Indonesia muncul pada urutan ke tujuh dalam survey untuk kata kunci “sex”. Selain kata itu, masih ada 19 tabel lagi yang memperlihatkan nama negara-negara pengakses dengan pencarian menggunakan kata kunci lainnya. Negara-negara tersebut antara lain Afrika Selatan (No. 1) untuk kata kunci ”porn”, dan Bolivia (No.1) untuk kata kunci ”xxx”. Selebihnya, di dominasi oleh negara-negara eropa barat. Perlu digarisbawahi bahwa tabel peringkat tersebut mengeluarkan AS dari objek survey, jadi hasil peringkat yang dilansir sebenarnya tidak murni berupa urutan negara, lebih merupakan kecenderungan. Apakah warga negara asing (WNA) yang mengakses situs dari alamat IP (Internet Protokol) Indonesia bisa dianggap mewakili Indonesia sebagai negara?
Penulis setuju dengan perspektif pemerintah bahwa apapun hasilnya, munculnya nama Indonesia pada survey tersebut adalah hal yang memprihatinkan. Sangat disayangkan pula bahwa 80% dari negara-negara yang masuk dalam tabel peringkat yang sama dengan Indonesia adalah negara yang dihuni mayoritas muslim. Tetapi penulis lebih menyayangkan pengkotakan (framing) dari pemberitaan televisi swasta tersebut. Pembaca berita menggunakan redaksi ”…Indonesia tercatat berada di peringkat tujuh pengakses situs porno tertinggi di dunia…”, ini adalah pernyataan yang menyesatkan karena data survey yang dirujuk tidak menunjukkan informasi apapun tentang negara pengakses situs porno tertinggi, yang ada hanya untuk 20 kata kunci dari ratusan kosakata bahasa inggris lainnya. Kalimat redaksi itu juga memberikan kesan bahwa moral remaja Indonesia sudah mencapai taraf kesakitan yang patut diamputasi, seolah remaja harus hidup tanpa seksualitas.
Penyalahgunaan teknologi web (harus dibedakan antara internet dan web) adalah termasuk isu yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan para pengamat web diseluruh dunia selain perubahan iklim global dan kemiskinan. Minggu lalu penulis mendapatkan laporan hasil penelitian Ofcomm, lembaga riset media berkedudukan di London, Inggris, tentang perilaku, tindakan, dan penggunaan situs pertemanan (social networking site) seperti MySpace, Facebook, Friendster, Hi5, dan lain-lain oleh remaja di Inggris. Survey ini dilakukan antara Juni hingga Desember 2007 dan dipublikasikan tanggal 2 April yang lalu. Hasilnya? 49% anak berumur 8 – 17 tahun di Inggris mempunyai profile di situs pertemanan, dan 65% dari orang tua anak-anak tersebut tidak menetapkan aturan dalam menggunakan situs pertemanan. Point penting dari penelitian tersebut adalah adanya kecenderungan penyalahgunaan web yang mengarah eksploitasi seksualitas pengguna situs pertemanan dengan anak-anak (8-17 tahun) sebagai kelompok umur yang paling rawan terkena penyalahgunaan ini.
Kalau pemerintah mau berinisiatif memblokir pornografi di internet seharusnya mereka ikut waspada terhadap sektor ini dan mau mengikuti perkembangan isu yang ada dibandingkan dengan menggunakan data survey 2 tahun yang lalu. Perkembangan web selalu berubah bahkan dalam hitungan minggu, adalah sebuah kesalahan logika jika menganggap suatu kondisi akan selalu sama dan statis apalagi jika berkaitan dengan teknologi web. Pendangkalan makna dengan menggunakan data penelitian untuk menjustifikasi tujuan-tujuan seharusnya menjadi pilihan terakhir pemerintah, masih banyak alternatif yang bisa digunakan untuk memperbesar efek dari suatu kebijakan publik. Dalam kerangkanya, penulis melihat bahwa penggunaan sepenggalan data survey situs porno oleh pemerintah dan dipersempit lagi oleh kekuatan penyiaran adalah masalah etika media yang seharusnya pemerintah berada pada posisi penengah, bukan ikut-ikutan menjadi pelaku. Kalau begini, menurut penulis, siaran berita televisi swasta tersebut tidak ada bedanya dengan film Fitna buatan Geert Wilders, keduanya sama-sama memanipulasi teks, memotong ruang dan waktu dengan tujuan menciptakan kesadaran realitas yang baru, sebuah horor realitas.
Penulis masih percaya bahwa remaja Indonesia adalah remaja yang bertanggung jawab, remaja yang tahu betul apa arti teknologi dan pandai menggunakannya untuk kepentingan yang lebih baik, bagi diri, masyarakat, dan bangsanya. Penggalan berita yang menampilkan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI sedang menyampaikan interpretasi ”…jadi, mengakunya kepada ibunya mau belajar bersama, padahal nonton pornogra.. apa? materi pornografi, apa video atau apa…” adalah efek pengkotakkan (framing) berita yang memberi kesan degradasi moral. Pemberian kesan jangan percaya lagi setiap anak anda mengakses web, atau mau belajar bersama dengan menggunakan internet, dan siaran berita itu telah sukses menciptakannya. Penulis yakin sebagian besar pemirsa telah membeli makna yang ditawarkan berita tersebut, dan salut buat pemirsa yang bisa mengkritisinya.
Sekedar gambaran kasar pengguna internet di Lampung jika mengambil pembagian keseluruhan pengguna internet di Indonesia tahun 2007 sebesar 20 juta pengguna (internetworldstats, akses 11/04/200
dengan 33 provinsi dan memperhitungkan pertumbuhan pengguna internet di kota-kota besar, maka estimasi penulis bahwa di Lampung terdapat tiga hingga empat ratus ribu pengguna. Perkiraan ini berupa pengguna komersial dan non-komersial dan tidak memperhitungkan pengguna potensial. Jika dari populasi yang ada diasumsikan saja 5% dari pengguna (kemungkinan lebih besar dari ini jika mengingat banyaknya anak sekolah di warnet-warnet sehabis jam sekolah) adalah mereka yang berumur 8 hingga 17 tahun, maka setidaknya ada 15 hingga 20 ribu pengguna web usia sekolah setiap harinya di seluruh Lampung. Ini adalah kelompok yang rawan terkena dampak dari penyalahgunaan web, alih-alih pembatasan dari menggunakan internet.
Menjelang saat-saat pilkada seperti ini, fokus media lebih cenderung mengarahkan pembaca untuk lebih menyimak politik praktis dan sedikit meninggalkan sisi edukasi masyarakat. Tulisan ini hanya bermaksud sebagai penyegaran dan intermezzo dari percakapan. Bahwa selain naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan apa mendukung siapa, para orang tua masih mempunyai anak-anak yang setiap harinya rawan terhadap penyalahgunaan teknologi. Kasus video porno PNS beberapa bulan yang lalu adalah contohnya. Orang tua dan keluarga adalah gerbang pertama dari usaha penangkalan penyalahgunaan teknologi tersebut dengan ikut memberikan pendidikan, selain sekolah tentunya. Tetapi untuk bisa memberikan pendidikan yang benar, orang tua dan sekolah harus mendapat informasi yang benar dahulu tentang manfaat dan kemanfaatan teknologi, terlebih teknologi web. Membaca, mendengar, dan menyimak informasi yang menyesatkan dapat menimbulkan reaksi yang keliru dan menyebar luas (efek kupu-kupu/butterfly effect).
Salam,
Kemarin, CERN (singkatan aslinya dalam french, dalam english European Center for Nuclear Research) yaitu lembaga riset eropa berpusat di Geneva yang melahirkan world wide web (WWW), baru saja mengumumkan perkembangan generasi baru, in my sense, dari teknologi web yang mereka sebut sebagai The Grid. The Grid diproyeksikan akan mempunyai kecepatan 10.000 kali lebih cepat dari teknologi web yang kita miliki sekarang. Kapasitas 27 km superkonduktor LHC yang dimiliki The Grid mampu mengalirkan data hingga hampir 1 Tb (terabyte) per detik serta mengolah informasi yang sama kapasitasnya dengan 56 juta keping CD, sekedar gambaran kalau kita susun satu per satu CD tersebut maka akan selesai sekitar 60 km kemudian, itu sama saja dengan menyusun CD tersebut dari Tugu Gajah Bandar Lampung hingga Kalianda, Lampung Selatan!
Dalam simulasi yang mereka contohkan, pengguna The Grid bisa mengirimkan 1 koleksi lengkap album Rolling Stone dari geneva ke tokyo dalam waktu 2 detik, atau 5 detik bagi 1 film HD DVD. Selain itu, studi kasus yang telah mereka laksanakan juga telah membantu dunia kedokteran menganalisa korelasi kompleks 140 juta sampel malaria, penyakit yang membunuh 1 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Suatu analisa yang baru akan selesai 420 tahun lagi jika para ahli menggunakan teknologi web konvensional.
David Burton, Profesor fisika dari Univ. of Glasgow, kepala peneliti The Grid mengatakan bahwa teknologi ini juga memungkinkan kita berkomunikasi dalam cara yang tidak bisa dibayangkan oleh generasi yang lahir sebelum 1980 (generasi X, baby boomers dsb.)–Kalau menurut saya sih, mungkin teknologi ini tidak bisa dibayangkan oleh mereka yang belum pernah nonton Star Wars–Nevertheless, Burton memberikan gambaran kemungkinan dari teknologi ini antaranya; percakapan hologram 3D, kalau anda pernah nonton film Star Wars anda pasti inget waktu Luke Skywalker pertama kali liat hologram Princess Layla yang disimpan di memorinya R2D2, sekarang fiksi itu bisa menjadi kenyataan. Imajinasi saya membayangkan di masa depan kita benar-benar bisa berkomunikasi dengan orang lain dalam komposisi tubuh yang nyata tidak menggunakan layar lagi. Sebenarnya hologram sudah bisa dipakai saat ini, tetapi karena membutuhkan energi dan prosesor komersial saat ini dalam jumlah yang besar, sehingga harganya sangat mahal sehingga tidak banyak yang menggunakannnya.
Anda ingat bagaimana Tom Cruise berperang melawan teknologi di Minority Report, yakk! seperti itulah masa depan social network. Anda-anda blogger akan menjadi agen-agen dari komputer catatan sipil pemerintah dalam mendata profile, aktivitas bahkan mimpi warganya tadi malam. Kenapa, karena anda seperti saya! kita sama-sama suka menuliskan apa yang kita pikirkan, apa yang kita lakukan, sharing foto dan video tentang kita dan siapa-siapa kita berhubungan atau yang menarik perhatian kita. Kalau anda senang ketemu teman lama anda di facebook atau friendster seperti saya, tahan dulu, karena yang lebih senang yaitu CIA dan badan-badan intelijen negara, mereka punya lebih banyak data tentang anda daripada cuma formulir KTP.
Nah, kalau saya bicara seperti ini kok jadinya seram sekali ya, dimana privasi kita sebagai manusia? ini melanggar HAM ini! begini, saya tidak berbicara mengenai baik atau buruk mengenai sesuatu kecuali itu ada ekspresi atau perilaku. Teknologi sama seperti semua esensi di dunia materi ini adalah murni pada Idea-nya. Jadi itu tergantung manusianya, saya sih gak masalah kalau tulisan atau data situs pertemanan saya diakses badan intelijen, selama itu tidak mengganggu aktifitas saya sebagai manusia. Ignorance..?? well, probably… Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi The Grid ini bagi kesejahteraan kita sendiri. Saya membayangkan memberikan kuliah bagi mahasiswa2 di Bangkok tentang digital media misalnya, dengan bentuk hologram utuh tubuh saya, pada saat yang bersamaan mahasiswa2 saya di Unila mendapat materi yang sama, jadi mahasiswa2 di Indonesia tidak akan kalah dengan mahasiswa2 negara lainnya, US sekalipun. Ataupun, ada mahasiswa konsultasi skripsi tentang sesuatu yang saya tidak mengerti tetapi saya tahu kolega saya di Adelaide, Australia yang mengerti tentang topic itu, kolega saya bisa virtual mentoring bersama saya. Bayangkan kemungkinan lainnya! masih banyak lagi!
Dan bagi anda yang baru mempelajari web 2.0 dan ingin buat social networking site (SNS) lebih baik lupakan saja, mulailah berpikir web 4.0! konstelasi semantic web berbasis AI. Karena dalam 2 tahun kedepan sudah akan ada generasi baru dari web dengan platform yang akan mengarah pada penggunaan The Grid. Isu internal di facebook mengatakan bahwa mereka sudah bergerak ke arah itu, langkah yang sama di ikuti oleh Google yang hari ini