<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The Hyperselectives</title>
	<atom:link href="http://ahmadriza.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadriza.wordpress.com</link>
	<description>kumpulan tulisan yang menarik di bidang communication studies, information studies, dan semiotic</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 03:40:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ahmadriza.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d9054cf0930cd3e239e8a3f31132b1af?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>The Hyperselectives</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Social software &amp; collaborative writing</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/11/05/social-software-collaborative-writing/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/11/05/social-software-collaborative-writing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 03:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[communication studies]]></category>
		<category><![CDATA[collaborative writing]]></category>
		<category><![CDATA[fisip unila]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan kolaboratif]]></category>
		<category><![CDATA[social software]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[soskom]]></category>
		<category><![CDATA[ta 2009/2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Salam,
Berikut adalah slide presentasi saya tentang social software &#38; collaborative writing
Social Software &#38; Collaborative Writing
Sedangkan untuk mahasiswa komunikasi yang mengikuti kelas Sosiologi Komunikasi yang saya ampu pada sem. ganjil TA 2009/2010, dimohon juga dapat mengunduh instrumen penelitian yang lainnya yaitu:
Kuesioner pre-test soskom
Catatan Kerja Kelompok
Kedua instrumen tersebut dapat dikumpulkan ke saya melalui email di ahmad.riza@unila.ac.id dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=185&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam,</p>
<p>Berikut adalah slide presentasi saya tentang social software &amp; collaborative writing</p>
<p><a href="http://ahmadriza.files.wordpress.com/2009/11/social-software-collaborative-writing.pdf">Social Software &amp; Collaborative Writing</a></p>
<p>Sedangkan untuk mahasiswa komunikasi yang mengikuti kelas Sosiologi Komunikasi yang saya ampu pada sem. ganjil TA 2009/2010, dimohon juga dapat mengunduh instrumen penelitian yang lainnya yaitu:</p>
<p><a href="http://ahmadriza.files.wordpress.com/2009/11/kuesioner-pre-test-soskom.doc">Kuesioner pre-test soskom</a></p>
<p><a href="http://ahmadriza.files.wordpress.com/2009/11/catatan-kerja-kelompok.doc">Catatan Kerja Kelompok</a></p>
<p>Kedua instrumen tersebut dapat dikumpulkan ke saya melalui email di ahmad.riza@unila.ac.id dengan mencantumkan nama, NPM dan nomor kelompok anda. Terima kasih atas partisipasinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=185&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/11/05/social-software-collaborative-writing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Research in blood-type-based communication, does anyone interested?</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/11/04/research-in-blood-type-based-communication-does-anyone-interested/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/11/04/research-in-blood-type-based-communication-does-anyone-interested/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:07:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[communication studies]]></category>
		<category><![CDATA[archetype]]></category>
		<category><![CDATA[blood type based communication]]></category>
		<category><![CDATA[japanese archetypes]]></category>
		<category><![CDATA[research in communication]]></category>
		<category><![CDATA[riset komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Salam Damai,
&#160;
Beberapa waktu yang lalu, disela-sela obrolan makan siang dengan beberapa kolega dari jurusan Ilmu Komunikasi Unila, saya mendapat informasi yang menarik. Dosen tersebut yang sedang menempuh pendidikan S3 di Unpad mengatakan kepada saya bahwa seorang professor ilmu komunikasi di Indonesia menantang para peneliti dan mahasiswa S3-nya untuk melakukan penelitian yang katanya terinsipirasi dari penemuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=183&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam Damai,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, disela-sela obrolan makan siang dengan beberapa kolega dari jurusan Ilmu Komunikasi Unila, saya mendapat informasi yang menarik. Dosen tersebut yang sedang menempuh pendidikan S3 di Unpad mengatakan kepada saya bahwa seorang professor ilmu komunikasi di Indonesia menantang para peneliti dan mahasiswa S3-nya untuk melakukan penelitian yang katanya terinsipirasi dari penemuan seorang ahli komunikasi di Jepang. Professor itu berpostulat bahwa dia setuju dengan pendapat yang mengatakan ada hubungan antara tipe darah seseorang (A, B, O atau AB) dengan temperamen seseorang dan pada akhirnya berpengaruh pula pada pola komunikasi seseorang. Dosen itu bilang kepada saya, bahwa saya mungkin tertarik mengingat dia tahu saya juga tertarik pada fungsi semantic dari komunikasi yang berhubungan juga dengan psikologi komunikasi dari seseorang. Waktu itu yang ada dibenak saya sewaktu mendengarnya adalah bahwa komunikasi ini ada hubungannya dengan ilmu syaraf atau neuro science. Thus, mungkin berhubungan dengan aspek bioteknologi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terus terang itu kali pertama saya mendengar adanya penelitian di bidang tersebut. Arah pikiran saya waktu itu mengatakan bahwa sangat sulit menentukan bahwa cara kita berbicara dan berkomunikasi dengan lingkungan ditentukan oleh tanda fisik kita. Hal yang sama masih saya sangsikan bahwa kita tahu sifat komunikatif seseorang dari sidik jarinya misalnya. Dalam psikologi social kita mengetahui bahwa sifat atau karakter seseorang dibangun oleh dua factor yaitu factor bawaan (inherit) dan factor lingkungan (environment). Sifat seseorang bisa dipengaruhi fisiknya tetapi bukan satu-satunya sebab mengapa seseorang lebih ekspresif dibandingkan orang yang lain. Seorang manusia belajar mengenai bahasa justru dari lingkungannya. Saya pernah ketemu orang keturunan Indonesia yang tinggal di Norway dan mengatakan bahwa dia lebih berbicara dengan bahasa  norse dibandingkan bahasa Indonesia. Fisik orang tersebut tidak ada bedanya dengan fisik orang Indonesia pada umumnya tetapi belum tentu dia bisa berbahasa dengan baik, contoh lainnya misalnya artis Cinta Laura atau artis-artis lainnya yang keturunan dan ke’bule-bule’an.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menandakan bahwa seseorang lebih pemarah dibandingkan orang lainnya karena di KTP nya bertuliskan bergolongan darah A adalah kesalahan logika menurut saya. Tetapi karena penasaran saya meneruskan pencarian saya di dunia maya mengenai hubungan golongan darah dengan pola komunikasi seseorang. Rekan saya yang memberitahu saya tentang hal ini menyebutkan sebuah nama, Takeji Furukawa. Berawal dari nama tersebut saya memulai pencarian saya, dan ini yang saya temukan:</p>
<ol>
<li>Teori Furukawa tersebut pertama kali terbit di Jepang pada tahun 1927, dengan judul “The Study of Temperament through Blood Type”. Studi tersebut menyajikan penjelasan mengapa terjadi pemberontakan di Taiwan atas Jepang, studi tersebut menunjukkan banyak dari pemberontak Taiwanese adalah bergolongan darah O. Teori tersebut dipopulerkan kembali pada tahun 1970-an di Jepang oleh seorang pengacara dan juga seorang penyiar yang tidak punya latar berlakang sama sekali dibidang medis, Masahiko Nomi.</li>
<li>Teori tersebut lebih berhubungan dengan ciri-ciri umum atau archetype dibandingkan penggolongan karakteristik sifat manusia. Misalnya golongan darah ditengarai seorang yang mencintai kedamaian tetapi juga seseorang yang selalu menuntut. Golongan darah O bersifat social dan jujur serta tidak menyukai otoritas. Pada teori ini Rh (rhesus) tidak mempunyai pengaruh apapun pada generalisasi.</li>
<li>Penelitian itu sendiri sudah menjadi legenda di Jepang. Penyerapannya sudah dilakukan oleh banyak aspek media. Tokoh-tokoh anime dan manga biasanya dilengkapi dengan golongan darah mereka untuk menandakan sifat mereka. Bahkan beberapa vending machine atau mesin otomatis menyediakan kondom yang disesuaikan dengan golongan darah pemakainya.</li>
<li>Kalau melihat informasi yang disampaikan di Wikipedia, walaupun penelitian Furukawa adalah ilmiah tetapi masyarakat Jepang melihatnya lebih sebagai panduan yang sama halnya dengan astrologi bagi di Eropa atau Penanggalan bagi orang jawa.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk itu, saya sendiri masih sangsi apakah penelitian untuk melihat aspek hubungan atau pengaruh dari golongan darah akan bisa mempunyai signifikansi. Terlalu abstrak menurut saya bahwa kita mengeneralisasikan pola komunikasi kita karena keturunan kita. Penelitian di bidang komunikasi pun pada hakikatnya mempelajari aspek interaksi dari bahasa, bahwa setiap sentuhan dan perkataan yang lakukan adalah proses pertukaran pesan. Jadi aspek yang dikaji lebih dititikberatkan pada reaksi manusia. Tetapi karena yang mengajak ini seseorang professor, dia pasti sudah punya landasan yang kuat untuk melakukan penelitian ini. Atau mungkin, saya saja yang masih kurang pengalaman dan masih harus banyak membaca. Wallahualam.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=183&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/11/04/research-in-blood-type-based-communication-does-anyone-interested/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>News Conference &amp; Media Relation</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/10/20/news-conference-media-relation/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/10/20/news-conference-media-relation/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 07:23:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[communication studies]]></category>
		<category><![CDATA[journalism]]></category>
		<category><![CDATA[media relation]]></category>
		<category><![CDATA[media studies]]></category>
		<category><![CDATA[news conference]]></category>
		<category><![CDATA[press release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Salam,
Secara umum, presentasi dibawah ditujukan buat temen-temen yang tertarik untuk tahu bagaimana mengadakan konferensi pers yang baik serta bagaimana meningkatkan  dan membina hubungan dengan media yang lebih menguntungkan. Secara khusus file dibawah saya tujukan kepada mahasiswa yang mengambil matakuliah Press Release. Semoga bermanfaat.
Salam Damai,
News conference &#38; Media Relation
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=180&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam,</p>
<p>Secara umum, presentasi dibawah ditujukan buat temen-temen yang tertarik untuk tahu bagaimana mengadakan konferensi pers yang baik serta bagaimana meningkatkan  dan membina hubungan dengan media yang lebih menguntungkan. Secara khusus file dibawah saya tujukan kepada mahasiswa yang mengambil matakuliah Press Release. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Salam Damai,</p>
<p><a href="http://ahmadriza.files.wordpress.com/2009/10/pra-conference-conference.pdf">News conference &amp; Media Relation</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=180&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/10/20/news-conference-media-relation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Google Wave at first sight</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/10/03/google-wave-at-first-sight/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/10/03/google-wave-at-first-sight/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 06:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[General issues]]></category>
		<category><![CDATA[digital media]]></category>
		<category><![CDATA[computer]]></category>
		<category><![CDATA[computer mediated communication]]></category>
		<category><![CDATA[google wave]]></category>
		<category><![CDATA[groupware]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi termediasi komputer]]></category>
		<category><![CDATA[semantic web]]></category>
		<category><![CDATA[social software]]></category>
		<category><![CDATA[user experience]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Salam Damai,
Dua hari lalu saya menjadi satu diantara 100.000 orang yang diundang Google untuk menjadi tester Beta version dari Google wave. Undangan itu menclok di inbox saya dengan tulisan ‘Your invitation to preview Google Wave’ dan link ke versi test dari Google wave di dalamnya. Mungkin diantara pembaca ada juga yang mendapat undangan ini. Tulisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=178&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam Damai,</p>
<p>Dua hari lalu saya menjadi satu diantara 100.000 orang yang diundang Google untuk menjadi tester Beta version dari Google wave. Undangan itu menclok di inbox saya dengan tulisan ‘Your invitation to preview Google Wave’ dan link ke versi test dari Google wave di dalamnya. Mungkin diantara pembaca ada juga yang mendapat undangan ini. Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi mengenai Google wave dan tidak mencerminkan pendapat dari keseluruhan sampel. Sebelum mencoba aplikasi terbaru dari Google ini saya mencoba mencari tahu dulu ulasan dari blogs terkenal seperti readwriteweb, tujuannnya supaya saya yakin bahwa link yang dikirim ini bukan spyware atau hoax. Setelah yakin dan mendapat kesan pertama dari berbagai ulasan yang ada di internet saya kemudian mencobanya.</p>
<p>Pendapat saya akan berfokus pada aspek computer-mediated communication dan apakah Google wave bisa dikategorikan sebagai groupware atau social software. Sebagai awalan saya menganalisa tiga kolom yang digunakan pada main interface. Kolom paling kiri mempunyai fitur-fitur yang sama dengan kolom kiri Gmail, kolom tengah adalah email atau ‘wave’ anda, dan kolom paling kanan adalah isi dari wave yang anda klik. Kesan pertama saya bahwa Google wave bukanlah sebuah aplikasi email biasa. Mengapa saya katakan demikian? Google wave bisa disebut sebagai aplikasi email karena tampilannya yang hanya mengetengahkan satu main interface seperti email pada umumnya. Tetapi berbeda dengan aplikasi GoogleDocs. Google wave lebih berfokus pada kerja email dibandingkan lembar kerja (worksheet). Pada prinsipnya, menurut saya Google wave hanyalah protocol email yang dipersingkat sehingga model interaksi dapat lebih ringkas dan cepat. Untuk ini, kesan saya bahwa Google wave menawarkan kinerja interaksi yang lebih baik dari email biasa.</p>
<p>Pada inbox dari versi beta tersebut ada beberapa email yang sudah dikirimkan oleh pihak Google, salah satunya adalah multimedia email dengan video dan interactive petunjuk penggunaan Google wave. Video-video tersebut cukup membantu saya dalam memahami bagaimana menggunakan Google. Fasilitas unggulan yang ditawarkan oleh Google wave adalah meningkatkan kinerja kolaboratif real-time. Argumen saya berdasarkan contoh yang mereka berikan. Seperti penulisan kolaboratif dimana setiap anggota atau teman yang anda undang dapat mengedit email yang anda ciptakan, ini yang mereka sebut sebagai wave. Sebagai contoh, anda ingin membuat sebuah kegiatan piknik keluar kota dan anda mengundang teman-teman anda untuk sumbang saran mengenai tempat yang bagus untuk dikunjungi. Anda bisa memulai wave dari anda sendiri dengan menambahkan teman-teman anda yang anda bisa seleksi. Yang cukup menarik adalah anda harus menciptakan icon anda sendiri, seperti menciptakan profile buat facebook anda dan selanjutnya icon tersebut akan muncul disetiap wave.</p>
<p>Fitur yang menarik perhatian saya jelas kolom paling kanan dimana adalah perubahan besar dari menulis email biasanya. Wave sudah dilengkapi kemampuan memainkan pesan audio dengan adanya control mute sound di features bar diatas wave content. Selain itu, untuk lebih menyatukan dengan Google information ecosystem yang sudah ada. Pada features bar itu juga sudah dilengkapi dengan tombol Google maps, widget, dan URL gadget. Jadi tidak hanya video yang bisa di embed, aplikasi juga bisa di embed ke dalam wave. Berbeda dengan email biasa dimana transaksi bisa diperbarui dengan tidak me-reply email lama. Pada wave, diharapkan pengguna untuk tetap menggunakan satu wave untuk satu kegiatan. Ada kelebihan dan kekurangannya menurut saya, kelebihannya bahwa kita bisa mempunyai kendali yang lebih terhadap hal yang kita shared di dalam wave tersebut. Tetapi kekurangannya, bahwa pada tingkat personal, wave tidak cocok untuk digunakan karena tidak lebih baik dari email biasa.</p>
<p>Dari perspektif computer-mediated communication (CMC) jelas Google wave adalah sebuah terobosan dari permasalahan yang selalu meliputi paradox sinkronis-asinkronis dari CMC. Sejak awal diciptakannya aplikasi komunikasi berbasis komunikasi, kita selalu terhambat dan mulai membeda-bedakan antara komunikasi yang langsung (sinkronis) dan tidak langsung (asinkronis). Tidak ada yang menapik bahwa email adalah aplikasi internet yang paling ‘killer’ dan penggunaannya paling banyak hingga saat ini. Para penggiat internet terus berjuang menciptakan ‘the next app killer’ pengganti email, tetapi usah itu seperti bertepuk sebelah tangan, dengan cepat hilang ditelan waktu. Saya melihat Google wave adalah usaha Google untuk mencoba menjembatani apa arti sesungguhnya dari kerja kolaboratif dengan menggunakan computer. Bahkan saya bisa mengatakan bahwa apa yang diimplikasikan dari Google wave adalah sebuah usaha untuk memberikan makna baru dari kata komunikasi termediasi computer (computer-mediated communication).</p>
<p>Penelitian saya pada perilaku pengguna European Navigator menemukan bahwa users cenderung menggunakan moda CMC sinkronis dan asinkronis secara terpisah. Misalnya, mereka mengirimkan email yang berisi materi yang hendak mereka kerjakan secara kolaboratif dan kemudian menggunakan skype untuk mengontak dan atau mengkonfirmasi temannya secara langsung mengenai materi yang hendak dikerjakan. Jadi ada urutan disini. Pada Google wave saya lihat ada sedikit peningkatan (leveraged) kemampuan kerja kolaboratif. Wave yang kita ciptakan ada kemungkinan berinterkasi secara tertunda (delayed) tetapi jika dilakukan secara real time malah akan mendukung performa kita lebih baik lagi. Tetapi saya melihat masih adanya kemungkinan users untuk tetap menggunakan cara konvensional untuk berkomunikasi walaupun mereka telah bekerja dengan menggunakan Google wave. Unvcertainty adalah factor utama mengapa kita melakukan komunikasi. Kita berkomunikasi sehingga kita dapat mengurangi ketidakpastian dan kesimpangsiuran informasi yang kita miliki. Terlebih lagi, kita berkomunikasi untuk mengafirmasi ke-eksistensi-an kita.</p>
<p>Di Google wave pilihan untuk tetap mempertahankan status quo dari uncertainty tetap ada. Walaupun canggih, saya melihat Google wave akan segera hilang jika bersaing dengan aplikasi semantic web yang mulai bermunculan. Terlebih lagi, bagi Negara berkembang seperti Indonesia dimana 70% pengguna internetnya complain terhadap kecepatan akses internet mereka, maka untuk menciptakan kondisi ideal dari real-time collaborative seperti yang diinginkan oleh Google wave tetap saja akan menemui tantangan bandwith dan kemampuan computer penerima untuk mengolah data. Saya tidak mengerti mengapa tester dari readwriteweb mengatakan bahwa ‘user experience’ (EX) adalah masalah utama dari Google wave, tetapi saya juga tidak lebih bertentangan dengan mereka. Mungkin waktu penyesuaian dan model kolom yang lebih banyak telah mempersempit area kerja dibandingkan dengan menggunakan email biasa. Tetapi apa yang saya pahami mengenai EX yang terpenting adalah asumsi pengguna. Nah, jika kita bicara tentang perspesi pengguna berarti kita bicara mengenai interpretasi pengguna mengenai Google wave dalam hal ini semiotika telah bekerja sebagai point penting bagi pengembangan Google wave.</p>
<p>Tentu saja, point di atas adalah pendapat saya pribadi. Tetapi jika bukan saya saja yang berpikiran seperti itu, bukankah asumsi itu telah meninggalkan ranah subjektifitas dan menuju objektif? Mungkin saja. Lalu pada pertanyaan terakhir, apakah Google wave bisa dikategorikan groupware atau social software. Definisi saya mengenai social software tidak berubah, social software adalah aplikasi yang mendukung kinerja kelompok dan keberadaannya tidak bisa dilepaskan dengan model pengikutsertaan pengguna secara massive dan interactive. Sedangkan pengertian groupware menurut saya tidak berbeda dengan social software hanya saja groupware lebih menekankan factor kegunaan aplikasi bagi users dengan karakteristik dan tujuan tertentu. Sedangkan social software biasanya sudah men-set tujuan yang ingin diakomodasi dan mengharapkan users mengerti mengenai penggunaannya. Jika melihat definisi diatas, saya mengatakan bahwa Google wave bisa menjadi kategori baru dari social software dibandingkan groupware yang umumnya dibangun bagi kalangan tertentu. Pertama, Google wave adalah tersedia secara umum dan gratis. Kedua, Google wave menawarkan trans-aksi antar users sehingga memungkinkan untuk menciptakan inside application ata gadget tertentu. Disini fungsi Google wave telah berubah menjadi platform.</p>
<p>Saya kira cukup sekian, ulasan saya mengenai Google wave. Tidak banyak memang, karena itu masukan dari pembaca juga sangat saya harapkan. Tetapi yang terpenting menurut saya adalah ruang dan waktu. Hanya ruang dan waktulah yang dapat menentukan apakah Google wave dapat bertahan atau tidak. Kita lihat saja.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=178&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/10/03/google-wave-at-first-sight/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Does Social Software extend our senses? (Part 3)</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/09/15/does-social-software-extend-our-senses-part-3/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/09/15/does-social-software-extend-our-senses-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 13:23:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[digital media]]></category>
		<category><![CDATA[human and media]]></category>
		<category><![CDATA[hyperpersonal]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan teknologi komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[proteus effect]]></category>
		<category><![CDATA[seamless communication]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social software]]></category>
		<category><![CDATA[web technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Pada kemunculannya yang terkini, teknologi, atau bisa saya sempitkan pada teknologi web telah menggantikan fungsi pemikiran dan input sehingga tidak lagi tergantung dengan manusia. Kemampuan ahli teknologi kita untuk menciptakan pemikiran buatan (artificial intelligent) sudah maju sehingga peran pengguna (user) tidak lagi sebagai subjek melainkan sebagai objek. Jika kita bertanya, apakah ini menandakan sesuatu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=176&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada kemunculannya yang terkini, teknologi, atau bisa saya sempitkan pada teknologi web telah menggantikan fungsi pemikiran dan input sehingga tidak lagi tergantung dengan manusia. Kemampuan ahli teknologi kita untuk menciptakan pemikiran buatan (artificial intelligent) sudah maju sehingga peran pengguna (user) tidak lagi sebagai subjek melainkan sebagai objek. Jika kita bertanya, apakah ini menandakan sesuatu yang buruk? Saya kira kita masih harus melihat sejauh mana aplikasi teknologi tersebut berguna bagi manusia. Dalam kerangka perkembangan social software, sebagaimana kita bisa melihat pada awal perkembangannya hingga kini, ditujukan untuk membantu manusia mengolah informasi, berkerja dalam kelompok secara efektif dari segi waktu dan efisien dari segi biaya. Pada awalnya kita menciptakan aplikasi yang bisa membantu kita, memperpanjang tangan kita jika kita ingin mengerjakan banyak hal, atau memperbanyak mata kita jika kita ingin melihat banyak informasi.</p>
<p>Pada alamiahnya, social software adalah sebuah teknologi yang mendukung kinerja. Karena itu, pada awalanya social software lebih difokuskan dalam bentuk wadah bersama untuk saling berbagi ide dan tulisan (<em>collaborative writing</em>) seperti computer-supported collaborative writing (CSCW) dan Lotus Note serta file digital (<em>networking</em>) seperti ARPAnet. Perkembangan selanjutnya yang membagi aplikasinya menjadi banyak macam semata-mata dikarenakan tuntutan perilaku manusia yang beragam. Saat ini jika kita melihat secara spesifik pada beberapa macam social software seperti Social Networking Sites (SNS) dan Massive Multiplayer Online Role Playing Games (MMORPG) fungsi yang ditawarkan tidak lagi seperti apa yang saya ketengahkan diatas. Telah muncul adanya peningkatan atau sejenis pertumbuhan model kebutuhan sehingga tidak hanya aktivitas eksternal yang ingin didukung oleh aplikasi social software. Kebutuhan manusia akan penghargaan dan aktualisasi diri menjadi produk unggulan yang ditawarkan oleh kedua aplikasi tersebut.</p>
<p>Mengapa saya berani mengatakannya demikian? Apakah itu mendukung pertanyaan judul dari artikel ini? Dalam abstrak saya, yang sudah diterima untuk dipresentasikan pada European Conference ECREA (Europe Communication Research and Education Association) di Berlin pada November 2009 nanti tetapi tidak jadi saya presentasikan karena saya tidak mendapat dana untuk menghadirinya, saya mempertanyakan kemampuan MMORPG dalam mengaktualkan konsep diri atau <em>self-presentation</em> dengan mengambil objek penelitian adalah para pemain World of Warcraft (WoW). Dengan mempertemukan konsep J.B. Walther tentang Hyperpersonal dan turunannya yang dikenal sebagai The Proteus Effect. Saya berargumen bahwa dalam penggunaannya, secara sadar para pengguna (<em>users</em>) tidak serta merta menganggap bahwa karakter yang mereka mainkan adalah presentasi dari diri mereka. Walaupun begitu, mereka mengakui bahwa kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh karakter mereka adalah sesuatu yang mereka idam-idamkan. Apakah imbas dari pernyataan tersebut? Apa artinya? Artinya bahwa karakter MMORPG mempunyai bentuk manusia tetapi para pemain sadar bahwa karakter itu bukan mereka. Karakter mereka mempunyai mata tetapi mata tersebut tidak bisa melihat, karakter mereka mempunyai mulut tetapi  mulut tersebut tidak bisa merasakan.</p>
<p>Kalau begitu, apa gunanya bentuk manusia dalam MMORPG? Bukankan developer games sudah berusaha sedemikian rupa sehingga pengguna mereka bisa terwakili dengan karakter yang mereka ciptakan? Jawabannya adalah bahwa MMORPG mewakili suatu kebutuhan yang sudah sedemikian rupa diturunkan menjadi suatu kebutuhan yang sangat mendasar. Yaitu kebutuhan akan aktulitas diri, jika anda perkenankan saya untuk sedikit berfilsafat, kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan eksistensi. Ada alasannya mengapa seseorang menghabiskan lebih dari 100 jam per minggu mengakses MMORPG, dan saya berasumsi bahwa alasan tersebut pasti berkaitan dengan aktualitas diri atau eksistensi seseorang. Jika kita mengasumsikan bahwa demi mencapai aktualitas tersebut maka karakter yang dimainkan seseorang dalam MMORPG dapat menggantikan fungsi indera orang tersebut dalam berhubungan dengan lingkungannya maka dapat dikatakan bahwa secara hyperpersonal, karakter MMORPG pengguna tersebut adalah indera perpanjangannya dalam berinteraksi.</p>
<p>Lalu bagaimana seorang pengguna menghubung antara kebutuhan ekistensinya dengan perilaku penggunaan MMORPG-nya? Melalui imitasi tanda secara semiotic. Sejak kecil, secara psikologis manusia berinteraksi dengan lingkungannya melalui tiga rasa, yaitu imitasi, sugesti, dan empati. Saya akan memfokuskan pada imitasi. Dengan melakukan imitasi kita meniru tutur kata orang tua kita, kita melakukan apa yang lingkungan kita biasa lakukan, dan sebagainya. Tetapi, secara unik MMORPG dan teknologi virtual saat ini membaliknya. Sebagaimana yang saya katakan diatas, pengguna telah berbalik menjadi objek dari teknologi web. Dengan mengimitasi perilaku sang pengguna, maka sang karakter berkembang dan semakin karakter tersebut berkembang maka secara hyperpersonal kebutuha sang pengguna semakin terpenuhi.</p>
<p>Mari kita lihat contohnya pada SNS, lebih spesifik lagi pada Facebook. Beberapa minggu lalu saya tersenyum melihat judul proposal skripsi seorang mahasiswa yang ingin meneliti “kecanduan facebook” di fisip Unila. Saya tersenyum karena <em>internet addiction</em> saat ini masih menjadi sebuah kajian awal, fondasi ilmiahnya pun masih diragukan. Entah darimana mahasiswa tersebut bisa memperoleh kata “kecanduan facebook”. Menurut saya, kata kecanduan (<em>addicted</em>) masih terlalu tinggi  jika ingin menggambarkan perilaku pengguna facebook. Seharusnya analisa cukup difokuskan pada kebutuhan dan pola perilaku apa yang keterwakilkan dengan facebook. Saya kira seseorang dapat dikatakan candu jika orang tersebut merasa bahwa ada keterikatan eksistensi antara keberadaannya sebagai seseorang (<em>being</em>) dengan sesuatu, sehingga orang tersebut merasa tidak bisa hidup tanpanya. Tetapi dalam kasus facebook, keterikatan tersebut hanya bersifat tersier. Dalam arti bahwa, secara sadar bahwa pengguna facebook pun dapat melanjutkan hidupnya jika ia tidak mempunyai akses ke facebook.</p>
<p>Supervisor saya dulu di Luxembourg selalu mengatakan bahwa internet baginya seperti air dan udara, ia tidak bisa hidup tanpanya. Kalau begitu, dapatkah saya mengatakan bahwa ia mengalami kecanduan internet? Saya kira tidak, tetapi kalau ia tidak bisa melakukan apapun tanpa internet memang benar, dan hal ini sama seperti semua perilaku manusia dalam hubungannya dengan teknologi. Apakah social software dapat menggantikan peran manusia? Saya kira tidak. Tetapi apakah social software meningkatkan kemampuan indera kita? Saya kira, iya.</p>
<p>Salam Damai.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=176&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/09/15/does-social-software-extend-our-senses-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Does Social Software extend our senses? (Part 2)</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/08/30/does-social-software-extend-our-senses-part-2/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/08/30/does-social-software-extend-our-senses-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 10:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[communication studies]]></category>
		<category><![CDATA[cyberculture]]></category>
		<category><![CDATA[digital media]]></category>
		<category><![CDATA[human and media]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan teknologi komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[semantic web]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social software]]></category>
		<category><![CDATA[social web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Melihat pengaruh dari post-objectivisme dalam media dan bagaimana prosumer (produsen-consumer) menciptakan trans-alur dan pengaburan batas-batas komunikasi dalam pengertiannya yang konvensional, membuat saya berpikiran bahwa mungkin paradigm yang kita gunakan dalam menggunakan web technology sudah saatnya dibalik. Memang kalau kita melihat pertanyaan, apakah social software dapat digunakan untuk memperpanjang, atau tepatnya, memperkaya indera kita? Thus the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=170&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Melihat pengaruh dari post-objectivisme dalam media dan bagaimana prosumer (produsen-consumer) menciptakan trans-alur dan pengaburan batas-batas komunikasi dalam pengertiannya yang konvensional, membuat saya berpikiran bahwa mungkin paradigm yang kita gunakan dalam menggunakan web technology sudah saatnya dibalik. Memang kalau kita melihat pertanyaan, apakah social software dapat digunakan untuk memperpanjang, atau tepatnya, memperkaya indera kita? Thus the answer is no, in term of normative context. However, as we attempt to emerge all the potential hidden abilities and social benefits that the technology may embrace in our lives, then, reconsider the other side of paradigm to see how we are going to develop social software may emerge something that we might never think of. Just like any social media technologies these days compare to what we know 5 years ago.</p>
<p>Melanjutkan thread sebelumnya, point kedua yang diajukan oleh Kevin Kelly mengenai web 3.0 adalah responnya terhadap Tim Berners-Lee project ‘Linked Data’.  Sebagaimana kita ketahui, minggu lalu W3C baru saja mengumumkan protocol terbaru terhadap SKOS (<em>Simple Knowledge Organization System</em>). Implikasinya adalah semakin dekatnya visualisasi dari aplikasi bisnis semantic web. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan munculnya aplikasi bisnis dari semantic web menandakan akhir dari web 2.0? saya kira tidak. Kita melihat perkembangan Wolfram Alpha dan bagaimana setiap minggu selalu muncul search engine baru yang mengklaim mempunyai logika string yang lebih baik, lebih ‘semantic’. Well, despite it is true or not.  Yang pasti kita masih belum melihat manfaat riil dari aplikasi-aplikasi tersebut. Menurut saya, web 2.0 akan terus berlanjut sehingga terjadi perpindahan total perilaku penggunaan web. Jadi disini, transisi ke tahap evolusi yang lebih maju ditandai oleh aspek sosiologis dibandingkan aspek teknologinya.</p>
<p>Lalu apa hubungannya antara linked data dengan post-objectivism? Beberapa thread terdahulu saya menyinggung sedikit mengenai seamless communication dan salah satu aplikasinya yaitu fring. Fring hanyalah sebuah sampul dari buku semantic application. Fring hanya mencontohkan kemampuan semantic web dalam mengkoneksikan satu user pada beberapa aplikasi. Potensi sebenarnya lebih dari itu. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kevin Kelly dan pakar semantic web lainnya. Perkembangan web akan memungkinkan kita berkomunikasi dimana saja, kapan saja, berbiaya murah, dan lebih personal dalam pengertian sang mesin mengerti karakteristik penggunanya. Seamless communication adalah sebuah pengertian tentang media komunikasi tanpa batas materi.</p>
<p>Saat ini kita masih berkomunikasi dengan dibatasi medium apakah yang kita gunakan. Pendapat McLuhan tentang medium adalah pesan komunikasi itu sendiri masih kita pegang teguh. Paradigma ini menyebabkan kita terbatas oleh format media itu sendiri. Terlebih dengan konglomerasi media yang menyebabkan identitas kita dalam mengakses media adalah sumber pendapatan terbesar yang terus mereka putar ulang dengan kemasan yang semakin menarik. Cluster yang diterapkan oleh Google, Yahoo, atau kerajaan media lainnya berusaha memilah-milah kita, para pengguna sekaligus pembaca. Ekosistem informasi mereka menyebabkan para pembaca-pengguna (reader-user) dikunci sedemikian rupa sehingga kita hanya diharapkan berputar-putar saja dalam system yang mereka sudah siapkan. Pola ini menyebabkan kemudahan disatu pihak tetapi dilain pihak menyebabkan keterpurukan perilaku mengakses informasi yang sedikit banyak diragukan oleh Jakobowitz sebagai sebuah jurnalisme yang objektif.</p>
<p>Kalau kita sudah terkukung seperti itu, masih kita menganggap bahwa kita melek informasi (<em>information literate</em>)? Sebagaimana tubuh kita mengolah indera kita menjadi sensitive terhadap lingkungan berdasarkan fungsinya, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk rasa and so on. Seharusnya teknologi web juga begitu. Jika apa yang dimaksudkan oleh Kelly bahwa pada awal perkembangannya kita menggunakan teknologi web sebagai perpanjangan tangan dari indera kita. Mesin masih berfungsi menggantikan mata kita untuk memeriksa ribuan nama dokumen, sebagai mulut kita untuk memberitahukan pesan pada teman di luar negeri, atau untuk mendengar bagaimanakah cuaca hari ini. Lalu pada perkembangan teknologi selanjutnya pola tersebut berbalik.</p>
<p>Berlanjut…</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=170&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/08/30/does-social-software-extend-our-senses-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Does Social Software extend our senses? (Part 1)</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/08/29/does-social-software-extend-our-senses-part-1/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/08/29/does-social-software-extend-our-senses-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 16:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[communication studies]]></category>
		<category><![CDATA[cyberculture]]></category>
		<category><![CDATA[digital media]]></category>
		<category><![CDATA[human and media]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan teknologi komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[semantic web]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social software]]></category>
		<category><![CDATA[web 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[web development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Salam Damai,
Judul diatas terlintas dibenak saya sehabis menyimak diskusi dari Kevin Kelly tentang Web 3.0 di youtube. Sebelumnya dibenak saya dan saya pikir juga berada di pemikiran para pengamat dunia maya, kita sepaham bahwa semantic web dapat disebut sebagai evolusi selanjutnya dari perkembangan teknologi web (web technology). Kita yakin bahwa sebutan web 1.0, web 2.0 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=168&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam Damai,</p>
<p>Judul diatas terlintas dibenak saya sehabis menyimak diskusi dari Kevin Kelly tentang Web 3.0 di youtube. Sebelumnya dibenak saya dan saya pikir juga berada di pemikiran para pengamat dunia maya, kita sepaham bahwa semantic web dapat disebut sebagai evolusi selanjutnya dari perkembangan teknologi web (<em>web technology</em>). Kita yakin bahwa sebutan web 1.0, web 2.0 dan saat ini web 3.0 adalah sebuah label atas ruang dan waktu dimana suatu teknologi sempat mewarnai dan mendominasi aplikasi dari teknologi di dunia maya. Perlu diingat sekali lagi web bukan internet.  Kuliah dari Kevin Kelly sedikit banyak menggilitik benak saya. Buat yang belum menyimak, dapat menyaksikannya di youtube dengan keywords “Kevin Kelly, web 3.0”.</p>
<p>Saya ingin menekankan dua hal dari apa yang dikatakan Kevin Kelly tentang Web 3.0, dana pandangan saya sendiri tentang masa depan web dengan mengkhususkan pada perkembangan dari social software. Point yang pertama; menyoroti bagaimana dunia maya berkembang dan peran serta dari worldwide web (W3) sebagi katalis terbesarnya. Sangat menarik bahwa Kevin Kelly memulainya dengan sebuah pertanyaan spekulatif menurut saya, “kita sudah merasakan perkembangan teknologi web  selama 5000 hari terakhir, nah, bagaimana perkembangan web 5000 hari selanjutnya?”. Siapakah diantara anda yang bisa menjawabnya? Kalau anda bisa, silahkan buat postingan atau upload video anda ke youtube sebagai video response, saya yakin nama anda akan seketika terkenal.  Indeed, menurut saya sekalipun anda seorang cenayang, anda tidak akan bisa menjawabnya.</p>
<p>Yang ingin saya pinpoint dalam pertanyaan tersebut adalah implikasi semantiknya, pertanyaan itu seperti mempertanyakan “How is the context, as a variable, will impact the development of web?” jika kita meyakini bahwa definition dari context adalah signifikansi materi yang melingkupi teknologi web. Maka kita bisa melihat benang merah yang menjulurkan proyeksi atas perkembangan web. Kevin Kelly menandai di dalam kuliahnya dengan memberikan beberapa gambaran, lebih mirip dugaan menurut saya, dari perkembangan web. Yang pertama, ia memberikan contoh bagaimana perkembangan SNS (social networking sites) has defines aktivitas baru dari manusia. Ketergantungan pada internet adalah contoh lainnya. Kelly menggilitik kesadaran kita dengan mengingatkan bahwa 5 tahun yang lalu, aktvitas tersebut tidak se-candu saat ini.</p>
<p>Kelly kemudian mengajukan postulat bahwa “<em>humans have becomes the extended senses for machine, we used to vice versa</em>”. Yang dia maksud sebagai mesin disini adalah web sebagai suatu kesatuan fungsi pikir dimana, layar-layar kaca dan perkembangan <em>augmented technology</em> telah mencipakan suatu mesin web yang satu dengan banyak jendela. Beberapa isu yang kemudian harus diperhatikan, dan memang dibahas didalam diskusi tersebut adalah; masalah kepemilikan (propertiary) di dalam web. Isu ini sudah dimulai sejak web berdiri tetapi pada kedepannya, Kelly menegaskan tentang masalah ini. Kelly memberikan contoh bagaimana makin banyak barang gratis di internet secara paradox juga mendorong makin banyaknya produsen memproduksi barang yang tidak bisa diduplikasikan, dalam istilah dia “<em>uncopyable</em>”. Masalah lain yaitu mengenai keberadaan database central dari seluruh informasi di web. Jika mesin menjadi satu maka hal yang selanjutnya bisa mendukung eksistensi dari sang mesin adalah keberadaan database yang terfokus.</p>
<p>Mengenai isu yang kedua, saya membayangkan terintegrasinya database menjadi sebuah entity yang terpisah dari web tetapi keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari web itu sendiri. Seperti dua mata uang dari koin yang sama. Dalam benak saya bisa saja protocol untuk database berdiri sendiri seperti http://wwd/ misalnya. Tetapi saya bukan programmer, jadi ini hanya sebatas wacana saja. Dua isu tersebut saya korelasikan dengan premis bahwa manusia, para pengguna web, adalah kepanjangan tangan dari indera sang mesin. Kemudian termuncul dibenak saya sebuah pertanyaan, does social software extend our senses?</p>
<p>Berlanjut…</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=168&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/08/29/does-social-software-extend-our-senses-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PP tentang Dosen</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/06/19/pp-tentang-dosen/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/06/19/pp-tentang-dosen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 23:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[General issues]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[kesejahteraan dosen]]></category>
		<category><![CDATA[PP Dosen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Salam,
Berikut link kepada Peraturan Pemerintah tentang Dosen yang disahkan tanggal 26 Mei 2009 yang lalu. Ternyata memang tetap tidak mudah untuk meningkatkan kesejahteraan bagi dosen, tetapi jika kita memang berkualitas saya pikir PP ini justru akan banyak membantu. Insya Allah.
PP tentang Dosen
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=165&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam,</p>
<p>Berikut link kepada Peraturan Pemerintah tentang Dosen yang disahkan tanggal 26 Mei 2009 yang lalu. Ternyata memang tetap tidak mudah untuk meningkatkan kesejahteraan bagi dosen, tetapi jika kita memang berkualitas saya pikir PP ini justru akan banyak membantu. Insya Allah.</p>
<p><a title="PP Dosen 2009" href="http://ahmadriza.files.wordpress.com/2009/06/pp_dosen.pdf" target="_blank">PP tentang Dosen</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=165&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/06/19/pp-tentang-dosen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Manohara ke Prita ke semiotika nomor urut</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/06/16/dari-manohara-ke-prita-ke-semiotika-nomor-urut/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/06/16/dari-manohara-ke-prita-ke-semiotika-nomor-urut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 06:50:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[General issues]]></category>
		<category><![CDATA[human and media]]></category>
		<category><![CDATA[semiotika]]></category>
		<category><![CDATA[groundswell]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Manohara]]></category>
		<category><![CDATA[nomor urut capres]]></category>
		<category><![CDATA[Prita]]></category>
		<category><![CDATA[semiotika media]]></category>
		<category><![CDATA[semiotika nomor urut]]></category>
		<category><![CDATA[social media di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[UU ITE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Salam,
Tulisan ini untuk merangkum persepsi saya tentang berbagai isu sejak tulisan terakhir saya tentang facebook. Maklum, satu bulan belakangan ini saya disibukkan dengan penyelesaian thesis, artikel dan abstrak yang harus saya kirim ke berbagai konferensi dan jurnal. Pertama, mengenai Manohara. Banyak pihak sudah membahas mantan model yang jadi model lagi ini (lho??). Yang menjadi ketertarikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=161&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam,</p>
<p>Tulisan ini untuk merangkum persepsi saya tentang berbagai isu sejak tulisan terakhir saya tentang facebook. Maklum, satu bulan belakangan ini saya disibukkan dengan penyelesaian thesis, artikel dan abstrak yang harus saya kirim ke berbagai konferensi dan jurnal. Pertama, mengenai Manohara. Banyak pihak sudah membahas mantan model yang jadi model lagi ini (lho??). Yang menjadi ketertarikan saya yaitu mengenai bagaimana media di Indonesia terutama media online membahas isu tersebut. Saya ikut aktif memberikan komentar-komentar baik di Facebook atau Kaskus.us mengenai hal ini. Menurut saya, Manohara adalah salah satu dari sekian contoh bagaimana media mengarahkan isu tertentu (framing). Yang saya amati bahwa isu-isu yang berkembang kemudian melahirkan hubungan asosiatif dengan isu yang mungkin sebenarnya tidak berhubungan. Sangat menarik melihat bagaimana ekspresi pengguna media online menghubungkan Manohara sebagai puncak gunung es dari masalah hubungan Indonesia-Malaysia. Apalagi melihat isu-isu yang kemudian muncul seperti blok Ambalat dan penyiksaan TKW Siti Hajar. Manohara tidak lagi memerankan sosok korban KDRT melainkan telah menjadi duta kekesalan beberapa orang Indonesia tentang ’Malaysia’. Saya beri tanda kutip karena sebenarnya orang-orang tersebut pun sepertinya tidak melihat Malaysia sebagai sebuah negara melainkan sebagai sebuah stereotip, jika tidak mau dibilang metafora.</p>
<p>Berbicara mengenai stereotip dan metafora, saya melihat kasus Ibu Prita juga seperti itu. Jika rubrik Buras Lampung Post melihatnya sebagai people power, saya kira tidak. Apa yang dimaksud dengan people power? Apa seperti idiom <em>vox populi vox die?</em> Suara rakyat suara tuhan, siapa yang dimaksud dengan ‘rakyat’ dan atau ‘suara rakyat’? Menurut saya yang berkembang adalah metafora. Metafora atau methapor menurut kamus Princeton dapat didefinisikan sebagai <em>a figure of speech in which an expression is used to refer to something that it does not literally denote in order to suggest a similarity</em>. Ciri mendasar metafora adalah translogika dengan melahirkan virtual kesamaan antara dua subjek. Kok bisa sejauh itu? Itu kan cuma masalah email&#8230; Ya, memang. Praktisnya memang adalah masalah <em>Groundswell</em>, mengutip istilah dari Bernoff &amp; Li (2008), atau jika merujuk pada pendapat Jakubowicz (2009) adalah sebuah praktek post-objective. Tindakan manusia selalu didasari oleh logika, itu yang harus kita yakini dulu. Kalo ada yang bilang, ah.. kan ada tingkah laku yang tanpa logika? Saya kira itu justru yang disebut kesalahan logika. Mari kita telaah kesadaran kolektif (mengutip archetype-nya Carl Jung) yang adalah imbas dari gerakan informasi tersebut dan bagaimana kesadaran tersebut mentransformasi isu ke dalam bentuk tanda (sign). Kasus Ibu Prita sama seperti kasus Manohara, berkembang karena spotlight media. Baik pada kasus Manohara ataupun Prita, spiral informasi bergerak sentripetal dari isu utama. Laju isu kemudian lahir dengan menyinggung substansi-substansi lain seperti; ketidakpuasan beberapa pihak dengan UU ITE, masalah perbatasan Indonesia-Malaysia yang tak kunjung selesai, nasib TKW, dll. Persinggungan tersebut tidak diasosiasikan secara instant.</p>
<p>Para pembuat berita, atau media sebagai entitas, melihatnya melalui kesamaan eksistensi, melalui ciri-ciri yang lalu dikristalkan dengan melabelkan isu ke dalam kata-kata sederhana seperti ’Manohara’ untuk mewakilkan ketidakpuasan kepada Malaysia, untuk merepresentasikan kekerasan dalam rumah tangga, kisah sukses (dalam pengertian berhasil kabur dari lingkungan yang menjeratnya), nasib orang Indonesia di rantau hingga alternatif tren pemberitaan selain pemilu. Tak pelak, ada rumah makan yang menambah embel-embel Manohara sehingga nama rumah makan tersebut menjadi ’RM Ayam Goreng Manohara’, atau ’jilbab dan tas Manohara’ untuk melabelkan sebuah model jilbab dan tas yang banyak dijual di Tanah Abang, Jakarta. Ternyata pada kasus rumah makan, asosiasi yang dihasilkan berkonotasi sebagai ’kisah sukses’, ’alternatif’, dan tren stereotip. Pada kasus jilbab dan tas, hubungan yang terbentuk adalah paradigmatik. Makna dari bentuk jilbab dan tas tersebut digantikan dengan apa yang orang-orang pikir tentang Manohara (dan kebetulan Ibu Prita juga berjilbab), lagi-lagi tren stereotip. Hubungan asosiasi dan paradigmatik tersebut tidak hanya dipikirkan oleh satu orang melainkan ribuan, bahkan mungkin jutaan se-Indonesia. On the other hand, kasus Ibu Prita mempunyai urutan kelahiran asosiatif yang berbeda dengan kasus Manohara. Pada kasus Ibu Prita, labelisasi lahir sebelum kasus selesai, sebaliknya pada kasus Manohara. Ini adalah permainan metafora. Ibu Prita kemudian menjadi metafora dari ‘korban malpraktek’, dan ‘fenomena ITE’ di Indonesia. Sadar ataupun tidak disadari oleh Ibu Prita, metafora terhadap dirinya adalah hal yang menyelamatkan dirinya.</p>
<p>Kasus terakhir adalah mengenai nomor urut capres. Tadinya saya mau menuliskannya kedalam bentuk artikel untuk dimuat dikoran tetapi saya kira tidak perlulah, toh kalo saya ngomong semiotik apa ada yang ngerti&#8230; (bukannya merendahkan lho, hanya saja yang tidak mengerti lebih banyak dari yang mengerti&#8230;). Pendapat saya mengenai semiotika nomor urut capres dilandasai setelah banyaknya paranormal ataupun pembicaraan di forum-forum online tentang pendapat mereka pada masing-masing nomor urut. Yang unik adalah mereka melakukan apresiasi tanpa sadar dengan mengkonstruksi persepsi yang sudah dimiliki oleh mereka sendiri terhadap nomor yang bersangkutan. Sebagai contoh, ada yang mengatakan bahwa nomer 1 ’menandakan’ akan menjadi nomer 1, nomer 2 mudah diingat (dari mana ingatannya??), nomer 3 adalah nomer yang akan meneruskan, dsb. Nomor urut kemudian menjadi symbol, karena adanya hubungan kausalitas antara kenyataan dengan ke-sebab-an yang ada dalam pikiran para interpretants tersebut. Terlepas hasil akhirnya nanti, menarik sebenarnya untuk disimak bahkan kalo ada yang mau menelitinya, apakah semiotika nomor urut tersebut berpengaruh pada elektabilitas (saya baru saja belajar mengenai kata ini) para capres.</p>
<p>Sekiranya sekian dulu, terima kasih sudah membacanya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=161&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/06/16/dari-manohara-ke-prita-ke-semiotika-nomor-urut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenai fatwa haram atas Facebook</title>
		<link>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/05/22/mengenai-fatwa-haram-atas-facebook/</link>
		<comments>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/05/22/mengenai-fatwa-haram-atas-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 08:31:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza</dc:creator>
				<category><![CDATA[communication studies]]></category>
		<category><![CDATA[digital media]]></category>
		<category><![CDATA[human and media]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[facebook diharamkan]]></category>
		<category><![CDATA[facebook haram]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa haram]]></category>
		<category><![CDATA[media bersosialisasi]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan facebook]]></category>
		<category><![CDATA[ponpes se Jawa-Madura]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadriza.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, berita-berita di portal-portal berita penuh dengan dengan kupasan mengenai fatwa haram yang dikeluarkan ulama di Jawa Timur tentang penggunaan Facebook. Mereka mengharamkan penggunaan Facebook untuk mencari jodoh atau pacaran, atau penggunaan berlebihan lainnya. Lalu pada berita lainnya di ulas pendapat dari para pengguna Facebook (facebookers) bahwa fatwa itu tidak berdasar dan mereka lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=159&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari ini, berita-berita di portal-portal berita penuh dengan dengan kupasan mengenai fatwa haram yang dikeluarkan ulama di Jawa Timur tentang penggunaan Facebook. Mereka mengharamkan penggunaan Facebook untuk mencari jodoh atau pacaran, atau penggunaan berlebihan lainnya. Lalu pada berita lainnya di ulas pendapat dari para pengguna Facebook (facebookers) bahwa fatwa itu tidak berdasar dan mereka lebih melihat sisi manfaat yang ditawarkan situs jejaring sosial lainnya. Terus terang saja, sebagai pengamat teknologi web dan pengguna facebook posisi pendapat saya tentunya sudah bisa ditebak. Saya menyayangkan fatwa seperti itu. Tetapi alasan saya berpendapat demikian bukan merupakan pembelaan sepihak (pledoi) atau berusaha mencari pembenaran dari apa yang saya lakukan.</p>
<p> </p>
<p>Argumentasi saya yaitu fatwa tersebut adalah penyalahgunaan kekuasaan dengan tujuan pembenaran terhadap pendapat pribadi. Fatwa tersebut dengan mengutip dasar-dasar dari hukum islam lebih sebagai pembenaran daripada menghasilkan keputusan yang lebih bermanfaat. Telaah argumentasi saya adalah:</p>
<ul>
<li>Sesuai dengan yang disadur dari detikSurabaya (22/05/2009): ”larangan tersebut ditekankan adanya hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Apabila hubungan pertemanan spesial tersebut dilakukan mengenal karakter seseorang dalam kerangka ingin menikahi dengan keyakinan keinginannya akan mendapatkan restu dari orang tua, hal tersebut tetap diperbolehkan”. Jika menilik kutipan kutipan tersebut terdapat dua kesalahan logika.</li>
</ul>
<p>Pertama, kesalahan mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Apa yang dimaksud dengan ”hubungan pertemanan spesial yang berlebihan” terlebih lagi, apa yang dimaksud dengan berlebihan dalam konteks penggunaan facebook. Dalam penelitian kualitatif yang saya lakukan untuk tesis saya, saya mewawancara pengguna facebook dari 8 negara yang berbeda. Seorang informan bahkan mempunyai jam akses internet hingga 100 jam perminggu tetapi apakah artinya ia telah bertindak berlebihan jika selama 100 jam ia mengakses internet dan pada saat yang bersamaan ia mengakses facebook. Jawabannya tidak, setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda untuk segala sesuatunya dan itu adalah tesis sejarah. Sama seperti setiap orang mempunyai kebutuhan tidur yang berbeda. Penelitian yang mengatakan bahwa tidur 6 jam lebih baik dari tidur 8 jam sebenarnya adalah temuan berdasarkan karakteristik tertentu dan tidak berlaku untuk semua manusia, setiap penelitian mempunyai batasannya sendiri. Untuk kutipan diatas, jelas argumentasi yang digunakan ulama adalah absurd dalam mendefinisikan apakah yang dimaksud dengan perilaku yang berlebihan. Contohnya; Darimana kita bisa mengetahui bahwa seseorang menggunakan facebook untuk mencari pacar atau ”hubungan pertemanan spesial” atau bahkan prostitusi. Apakah dengan mencantumkan statusnya di situ jejaring tersebut seseorang bisa dikatakan menggunakannya secara berlebihan, alas sebagai sesuatu yang haram. Kita tidak bakal bisa tahu.</p>
<p>          Kedua, kesalahan logika bahwa sesuatu yang khusus bisa diterapkan pada sesuatu yang umum. Analoginya seperti menyamakan bahwa setiap orang menyukai sambel. Memang buat beberapa orang tertentu, tetapi mengatakan ”semua orang Indonesia menyukai sambal” adalah sebuah kesalahan logika. Kalau ada yang merespon dengan menyamakannya dengan penggunaan logika induktif dan deduktif, orang tersebut perlu baca buku Dasar-dasar logika lagi. Induktif dan deduktif adalah perspektif proses logika, ketentuan-ketentua berlaku pada penerapannya masing-masing dan kalau kita tidak jeli, kita bisa terjatuh dalam jurang kesalahan logika. Kalo masih ada yang menimpali bahwa kita tidak perlu menggunakan logika dunia barat, saya justru ingin tanya dimana barat dan dimana timur di atas bumi ini. Barat dan timur adalah sisi dari keberadaan kita didunia (bukan hanya di Bumi), karena Indonesia adalah barat dari USA maka dunia timur dari Indonesia justru Amerika, dan tradisi pemikiran induktif dan deduktif justru berasal dari dunia Islam, tradisi filsafat di Eropa justru belajar dari tradisi filsafat Islam, lucu bukan? Karena itu, menganggap setiap muslim yang menggunakan facebook untuk mengenal lawan jenis tanpa maksud keseriusan dan tanpa izin orang tua adalah sebuah tindakan sia-sia dan berujung zina adalah sebuah kesalahan interpretasi yang fatal. Jangan karena buruk muka lalu cermin dibelah, atau tidak dapat ikan lalu kail dipatahkan. Tindakan yang berdasarkan amarah justru adalah hal yang dilarang dalam Islam, semoga saya tidak salah.</p>
<ul>
<li>Kenapa kita melarang sesuatu yang jelas-jelas manfaatnya lebih besar daripada penyalahgunaannya. Kita melarang facebook dengan alasan mubazir dan menjurus ke zina tetapi kita mengamini, bahkan memberikan komentar ”Allahu Akbar!”, video yang diposting seseorang di Palestina yang mempertontonkan seorang anak laki-laki yang menggorok leher seseorang yang menurutnya ’kafir’. Ini adalah standar ganda. Ini bukan Islam sebagai penyebar kedamaian yang saya yakini, ini adalah Islam yang menyebar kebencian. Pertanyaannya adalah apakah Islam adalah kedamaian dan kebencian? Siapakah yang menyebar kedamaian dan kebencian kalau bukan manusia itu sendiri, jadi apakah Islam adalah manusianya itu sendiri?</li>
<li>Kalau saya tidak salah ingat, sekitar 10 atau 11 tahun yang lalu ada fatwa yang mengatakan internet itu haram karena mengandung banyak konten porno, sadis, dan menyudutkan Islam. Tetapi seiring waktu berjalan, kita melihat banyak manfaat yang bisa didapatkan dari hadirnya internet. Internet digunakan siswa-siswa kita untuk mempelajari materi-materi yang tidak pernah bisa didapatkan jika menunggu materi tersebut diterbitkan dalam bentuk buku. Ada ekonomi yang tumbuh dari hadirnya internet, warnet-warnet yang memperkerjakan pegawai, toko-toko online, posisi-posisi baru yang membuka lapangan kerja bagi putra-putri bangsa. Ada politik, sosial, budaya dan interaksi yang kita rasakan manfaatnya dengan berkomunikasi dengan bangsa lain. Anda harus paham, sama seperti teknologi lainnya, pada awalnya Facebook dan internet pada umumnya adalah bebas nilai. Mereka adalah pisau yang bisa menghasilkan masakan-masakah lezat bergizi dan bernilai tinggi atau bahkan bisa digunakan untuk membunuh manusia yang lain, semuanya tergantung penggunanya. Saya kira solusinya justru bukan melarang menggunakan facebook tetapi kenapa tidak merangsang peneliti-peneliti muda Indonesia dan pakar-pakar teknologi, atau yang mengaku sebagai pakar teknologi, yang kita miliki untuk menciptakan teknologi yang lebih maju, yang bisa mengakomodasi permasalahan yang kita hadapi. Bukankan itu tujuan dari semua ilmu di dunia ini, untuk memecahkan permasalahan manusia di dunia.</li>
<li>Social media adalah sebuah fenomena yang tidak akan berhenti sampai disini. Sama seperti ditemukannya mesin cetak sehingga bisa menghasilkan buku 500 tahun yang lalu atau lahirnya komputer 100 tahun yang lalu. Perkembangan dari social media akan lebih maju dari apa yang kita kenal saat ini. Alasan tersebut karena, pertama, adalah sifat alami (nature) dari manusia sebagai makhluk sosial untuk bersosialisasi. Selama kebutuhan itu masih ada, social media akan terus berkembang. Kedua, selama manusia masih mempunyai masalah dalam hidup di dunia, teknologi dalam hal ini social media akan terus berevolusi (atau revolusi) untuk bisa memecahkan permasalahan yang ada, dan tanpa batas.</li>
<li>Kalaupun pengguna facebook tersebut menggunakan account-nya untuk tujuan yang sia-sia dan zina, siapakah yang mengetahuinya selain dia dan Allah? Dan kalaupun bisa terbukti misalnya dengan kasus seperti di Germany. Seorang laki-laki yang menampilkan profilnya sebagai wanita sedemikian rupa sehingga berhasil mengundang laki-laki untuk mengirimkan video mereka tanpa busana. Atau seperti kasus yang baru saja diputuskan bersalah oleh pengadilan di US, seorang ibu memalsukan profilnya di MySpace dan berhubungan dengan seorang gadis, kemudian gadis tersebut bunuh diri karena merasa diputuskan oleh pacar mayanya di MySpace. Apakah kemudian kita sebaiknya tidak menggunakan Facebook atau MySpace atau Friendster lagi? Apakah kemudian penggunaannya menjadi haram? Menurut saya tidak, semua orang didunia apalagi di Indonesia tahu mengenai bahaya merokok, lalu apakah haram untuk merokok? Variasi aksi yang dilakukan seorang muslim Indonesia pada facebook atau situs jejaring sosial adalah alternatif-alternatif yang bisa didapatkan oleh sejuta kemungkinan dari kenyataan. Jangan menghakimi sesuatu yang khusus dengan mengorbankan kemashlahatan umum. Anda tidak ada bedanya dengan pemimpin koruptor yang berpendapat bahwa apa yang ia lakukan adalah benar buat dirinya sendiri, tanpa memperdulikan bahwa uang yang ia korupsikan adalah hasil pajak dan keringat orang lain. Jangan anda memeras keringat orang lain demi kepentingan anda pribadi, anda terjebak dalam riba.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Argumentasi saya di atas, memunculkan pertanyaan lanjutan. Apakah yang harus kita lakukan sebenarnya terhadap masalah bahwa ada muslim di Indonesia yang menggunakan Facebook, atau situs jejaring sosial secara keseluruhan, untuk mencari jodoh tanpa maksud keseriusan sehingga bisa menjurus beberapa solusi yang saya bisa pikirkan saat ini, adalah:</p>
<ul>
<li>Berikan pengertian mengenai etika menggunakan situs jejaring sosial secara benar dan menyentuh. Jika anda masih melanggarnya juga, dosa atau tidak bukan ulama yang menentukannya.</li>
<li>Kembangkan teknologi atau aplikasi yang bisa menyaring aktivitas-aktivitas pengguna, tetapi apakah pengguna menggunakannya atau tidak itu terserah pengguna.</li>
<li>Kenapa tidak mengembangkan situs jejaring sosial sendiri. Undang muslim-muslimah untuk bergabung dengan anda. Tapi kalo tidak laku jangan serta merta menyalahkan facebook, mungkin ide anda tidak sesuai buat pengguna facebook.</li>
<li>Kita harus terbuka untuk segala hal. Saya kira Islam bukanlah sebuah agama yang berhenti pada waktu dan tempat tertentu. Bukankah Islam adalah agama akhir zaman? Selama waktu dan tempat masih berjalan, Islam harus terus berkembang.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Saya kira itu saja yang bisa saya pikirkan saat menulis postingan ini, semoga pembaca ada yang mau menambahkan dan memperkaya diskusi.</p>
<p> </p>
<p>Salam,</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Riza</p>
<p> </p>
<p>Ini link ke beritanya:</p>
<p><a title="Facebook diharamkan" href="http://surabaya.detik.com/read/2009/05/22/113156/1135485/475/penggunaan-facebook-berlebihan-diharamkan-ponpes-se-jawa-madura" target="_blank">Penggunaan Facebook Berlebihan Diharamkan Ponpes se Jawa-Madura</a></p>
<p><a title="Fatwa haram Facebook tidak berdasar" href="http://techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/05/22/55/222131/facebookers-fatwa-haram-facebook-tidak-berdasar" target="_blank">Facebookers: Fatwa Haram Facebook Tidak Berdasar</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadriza.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadriza.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadriza.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadriza.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadriza.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadriza.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadriza.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadriza.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadriza.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadriza.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadriza.wordpress.com&blog=2200020&post=159&subd=ahmadriza&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadriza.wordpress.com/2009/05/22/mengenai-fatwa-haram-atas-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0544996997e50c8b818a84559b8f5d12?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Riza</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>